Wukuf di Arafah, Hampir Tabrak Istri  

Wukuf
Penulis bersama istri saat menunaikan ibadah haji

“Baik-baik ji. Nanti ketemu ji di wukuf,” kata Aidir menjawab kerinduan saya terhadap istri.

Sekali waktu dalam perjalanan pulang dari Masjid Nabawi ke hotel saya bersama dengan seorang pembimbing agama PT.Tiga Utama. Lantaran suhu sangat panas, pembimbing yang berjalan di depan saya itu, sering menyemprotkan air ke kepalanya untuk membuat adem wajahnya. Sialnya, semprotan air itu malah menghantam muka saya yang ada di belakangnya. Dampaknya, saat tiba di hotel saya terkena flu berat.

Hampir tabrak istri

Waktu seminggu untuk menunggu hari wukuf serasa satu tahun. Begitu lama rasanya. Soalnya, pada hari wukuf itulah saya akan bertemu istri. Melampiskan rasa rindu setelah berhari-hari terpisah di Tanah Suci.

Setelah mengambil mikat dan menunaikan salat sunat 2 rakaat dalam pakaian ihram di Masjid Bir Ali, mobil SAPTCO meluncur kencang menuju Mina melintasi jalan bebas hambatan dengan lebar beberapa jalur. Tujuan kami hari itu adalah Mina sebagai persiapan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Kami menginap dua malam di Mina sembari menunggu hari wukuf yang merupakan rukun utama ibadah haji. Bus SATPCO kami masih gunakan menuju Arafah. Dengan catatan, setelah menurunkan jemaah, bus keluar dari Arafah.

BACA JUGA:  Dr. Abdi, Dari Jazirah Tenggara Sulawesi untuk PGRI Sulsel

Saat kami tiba, jalan di Arafah sudah sangat sesak. Sampai-sampai bus kami nyaris menyeruduk salah seorang jemaah Arab di depan kendaraan yang ditumpangi. Sempat juga muka si Arab itu memperlihatkan gestur tidak nyaman. Namun, pengemudi bus yang saya pimpin segera membelai-belai janggutnya. Si Arab yang sudah bermuka murka itu akhirnya tersenyum.

“Allah..Allah,” pekik si sopir bus kami.

Saya pun turun dari mobil untuk mencari tenda Tiga Utama. Saya berjalan cepat menguak lautan manusia sembari mata melotot setiap ada papan nama di gerbang tenda. Pas ada tanda PT Tiga Utama saya hendak melangkah masuk. Astaga, hampir saja saya menabrak istri tercinta di pintu masuk tenda.

“Mau ke mana ki?,” tanya istri yang belum hilang kaget dan herannya bisa berjumpa denhgan suaminya di pintu masuk kompleks tenda Tiga Utama.

“Ya, mencari tenda kita,” jawab saya kemudian menitip kantong kecil yang saya bawa.

Saya kemudian berlari menuju bus yang ditinggalkan. Mudah dikenali karena ada nomor 82 di depan kacanya. Saya memberi kode kepada para penumpang agar segera turun dan menuju ke tenda PT Tiga Utama mengikuti jejak pemandu.

BACA JUGA:  Sosok Si Abang Kumis Nursalam, Orang Bugis Toraja yang Ikut Nahkodai Rumah Besar Guru

Sepanjang hari saya dan istri berdoa di sisi lain tenda yang diisi oleh puluhan jemaah. Tibalah waktu magrib, saya harus berpisah dengan istri. Begitu berat berpisah dengan istri. Dia harus mengikuti rombongan jemaah haji yang dipandunya. Saya pun harus menghadapi dua kelompok jemaah dari bus yang jumlahnya 40-an orang itu yang sudah dibagi menjadi dua bus “coaster”, kapasitas 20-an orang.