Sepanjang hari saya dan istri berdoa di sisi lain tenda yang diisi oleh puluhan jemaah. Tibalah waktu magrib, saya harus berpisah dengan istri. Begitu berat berpisah dengan istri. Dia harus mengikuti rombongan jemaah haji yang dipandunya. Saya pun harus menghadapi dua kelompok jemaah dari bus yang jumlahnya 40-an orang itu yang sudah dibagi menjadi dua bus “coaster”, kapasitas 20-an orang.
Dari Arafah sekitar lepas magrib itu, kami mabit (memungut kerikil) di Musdalifah. Kendaraan kecil itu pun bergerak menuju Mina dalam iringan kendaraan yang sangat panjang. Pergerakan bus “coaster” itu mungkin lebih cepat semut merayap. Bayangkan, malam hari kami memungut kerikil, hari sudah sekitar pukul 11.00 belum sampai di Mina.
Sialnya, selama dalam perjalanan, saya direpoti oleh seorang jemaah pria lansia. Dia ditemani oleh istrinya yang juga lansia. Si suaminya ini sepanjang perjalanan suka usil. Selalu mengusik jemaah perempuan di dekatnya. Tangannya liar. Istrinya, kerap memukul tangannya agar berhenti “liar” memegang sembarang orang. Namun saat sedang tenang, penyakitnya kambuh.
Sampai di tenda tim Haji Indonesia di sebelah Terowongan Mina, jemaah lansia yang ‘nakal’ itu jatuh sakit. Saya menitipnya di Tim Kesehatan Haji Indonesia setelah memberi informasi agar bisa diantar ke Mina setelah dia baikan. Saya tidak tahu bagaimana kabar jemaah tersebut. Tentu Tim Kesehatan Haji Indonesia sudah mengurusnya.
Saya pun berjalan kaki dari tenda Tim Kesehatan Haji Indonesia ke Mina melalui Terowongan Mina yang menelan banyak korban jiwa setahun sebelumnya. Pada saat saya melintas tahun 1992, Terowongan Mina sudah dibuat dua jalur. Jalur yang ke dan dari Mina berbeda. Namun saya melihat, ada juga satu dua jemaah yang nakal. Mereka melawan arus dengan berjalan di pinggir-pinggir terowongan.
Situasi yang paling berat adalah ketika harus keluar dari Mina setelah melontar jamarat Aqabah untuk segera melaksanakan tawaf ifadah. Biasa juga disebut tawaf ziarah. Tawaf ini wajib dilaksanakan jemaah agar ibadah hajinya sah.
Gerakan meninggalkan Mina itu harus dilakukan sebelum magrib. Saya harus memikul tas pakaian yang begitu berat dengan berjalan kaki menuju Mekkah dan memandu jemaah asal Solo yang didampingi. Kami berjalan saja mengikuti jemaah yang di depan, sebab pasti mereka juga bertujuan sama, melaksanakan tawaf ifadah.
Setelah melengkapi seluruh rukun haji, saya pun mengantar jemaah haji yang didampingi menggunakan bus ke Jeddah. Bertepatan pula menjelang jemaah kambali ke Tanah Air, kami harus memberikan suara pada acara pemilihan umum tahun 1992, tepat pada tanggal 9 Juni. Kami hanya mencoblos kartu suara kemudian memasukkkan ke kotak yang tersedia tanpa menggunakan bilik suara, tetapi mencoblos di lobi hotel.
Pemilu saat itu pemilu diikuti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Golkar kemudian memenangkan 73,11% suara (282 kursi), PPP 15,96% (62 kursi) dan PDI 10,93% (56 kursi).
Menjelang keberangkatan jemaah asal Solo kembali ke Tanah Air, saya tidak sempat menyapa mereka. Nanti melalui telepon, salah satu keluarga yang ditemani anak gadisnya menyampaikan perasaan sangat menyayangkan tidak sempat bertemu dengan saya sebelum meninggalkan Jeddah. Ya, sekadar menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas jasa saya sudah menampingi selama sebulan di Tanah Suci.
Hingga kini, komunikasi dengan keluarga ini putus sama sekali. Mudah-mudahan mereka sehat walafiat dan selalu mengenang saat menunaikan ibadah haji tahun 1992, saat saya menemani mereka sejak tiba dan meninggalkan Jeddah.












