Pada saat umrah pertama tiba inilah, satu-satunya kesempatan mencium hajarul aswad saya peroleh. Peluang mencium batu hitam itu sangat misterius. Bayangkan saja, tubuh saya yang mungil bin kecil bisa tiba-tiba seperti terpelanting langsung ke depan lubang batu hitam itu. Saya tidak pernah tahu, bagaimana tubuh saya tiba-tiba saja ada di depan batu hutam itu. Mungkin saja saya melesat di kolong ketiak para jemaah dengan tubuh raksasa. Wallahuallam.
Anehnya, kepala saya langsung nongol di dalam lubang tersebut lengkap dengan kacamata. Sejenak saya mencium aroma wangi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Masya Allah. Setelah itu, saya tidak pernah berusaha dan mendapat kesempatan lagi mencium batu hitam itu.
Suami istri dipisahkan
Setelah seminggu di Mekkah, para jemaah PT Tiga Utama mulai berdatangan dari Tanah Air. Petugas yang berangkat dengan istri harus dipisahkan. Istri saya tetap tinggal di Mekkah dan saya harus ke Madinah melalui Jeddah. Menyambut kedatangan jemaah haji, saya bersama beberapa orang petugas pria kembali ke Jeddah. Dari Jeddah para jemaah langsung diangkut dengan bus Saudi Public Transport Company (SAPTCO) kapasitas 42 orang ke Madinah. Perusahaan yang menyediakan layanan bus antarkota dan tranportasi haji dan umrah ini berpusat di Riyadh. Sekarang sudah tersedia layanan tambahan sesuai perkembangan teknologi terkini — WiFi grartis.
Waktu itu, saya kebetulan mendampingi jemaah haji asal Solo. Selama melaksanakan ibadah ‘arbain’ (salat 40 waktu tanpa putus) di Masjid Nabawi, kami para petugas bisa sedikit santai sambil ikut melaksanakan ‘arbain’. Pada saat melaksanakan wisata kota di Madinah, antara lain mengunjung Bukit Uhud, Masjid Quba, Pasar Kurma, dan lain-lain, kami petugas harus bekerja memobilisasi para jemaah. Setiap petugas harus memastikan, semua jemaahnya sudah naik di bus sebelum berangkat. Begitu pun saat sekembali ke hotel menjelang tiba waktu salat fardu. Semua harus lengkap.
Pada waktu di Madinah, seorang jemaah haji perempuan daro PT Tiga Utama berpulang. Saya sempat mendampingi jemaah itu ke Kompleks Pemakaman Baqi saat akan dimandikan dan dikafankan. Setelah itu, dibawa ke Masjid Nabawi untuk disalatkan seusai salat fardu zuhur. Usai disalatkan, jemaah haji berebutan hendak mengusung keranda janazah.
Berpisah selama seminggu dengan istri ternyata merupakan ujian tersendiri. Ujian rindu. Sekali waktu, masuk telepon dari Aidir Amin Daud dari Mekkah melalui telepon hotel. Kesempatan ini saya gunakan untuk berbicara sejenak menanyakan keadaan istri saya di Kota Haram tersebut.











