Wukuf di Arafah, Hampir Tabrak Istri  

Wukuf
Penulis bersama istri saat menunaikan ibadah haji

Waktu itu, saya kebetulan mendampingi jemaah haji asal Solo. Selama melaksanakan ibadah ‘arbain’ (salat 40 waktu tanpa putus) di Masjid Nabawi, kami para petugas bisa sedikit santai sambil ikut melaksanakan ‘arbain’. Pada saat melaksanakan wisata kota di Madinah, antara lain mengunjung Bukit Uhud, Masjid Quba, Pasar Kurma, dan lain-lain, kami petugas harus bekerja memobilisasi para jemaah. Setiap petugas harus memastikan, semua jemaahnya sudah naik di bus sebelum berangkat. Begitu pun saat sekembali ke hotel menjelang tiba waktu salat fardu. Semua harus lengkap.

Pada waktu di Madinah, seorang jemaah haji perempuan daro PT Tiga Utama berpulang. Saya sempat mendampingi jemaah itu ke Kompleks Pemakaman Baqi saat akan dimandikan dan dikafankan. Setelah itu, dibawa ke Masjid Nabawi untuk disalatkan seusai salat fardu zuhur. Usai disalatkan, jemaah haji berebutan hendak mengusung keranda janazah.

Berpisah selama seminggu dengan istri ternyata merupakan ujian tersendiri. Ujian rindu. Sekali waktu, masuk telepon dari Aidir Amin Daud dari Mekkah melalui telepon hotel. Kesempatan ini saya gunakan untuk berbicara sejenak menanyakan keadaan istri saya di Kota Haram tersebut.

BACA JUGA:  “Termehek-Mehek”

“Baik-baik ji. Nanti ketemu ji di wukuf,” kata Aidir menjawab kerinduan saya terhadap istri.

Sekali waktu dalam perjalanan pulang dari Masjid Nabawi ke hotel saya bersama dengan seorang pembimbing agama PT.Tiga Utama. Lantaran suhu sangat panas, pembimbing yang berjalan di depan saya itu, sering menyemprotkan air ke kepalanya untuk membuat adem wajahnya. Sialnya, semprotan air itu malah menghantam muka saya yang ada di belakangnya. Dampaknya, saat tiba di hotel saya terkena flu berat.

Hampir tabrak istri

Waktu seminggu untuk menunggu hari wukuf serasa satu tahun. Begitu lama rasanya. Soalnya, pada hari wukuf itulah saya akan bertemu istri. Melampiskan rasa rindu setelah berhari-hari terpisah di Tanah Suci.

Setelah mengambil mikat dan menunaikan salat sunat 2 rakaat dalam pakaian ihram di Masjid Bir Ali, mobil SAPTCO meluncur kencang menuju Mina melintasi jalan bebas hambatan dengan lebar beberapa jalur. Tujuan kami hari itu adalah Mina sebagai persiapan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Kami menginap dua malam di Mina sembari menunggu hari wukuf yang merupakan rukun utama ibadah haji. Bus SATPCO kami masih gunakan menuju Arafah. Dengan catatan, setelah menurunkan jemaah, bus keluar dari Arafah.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Saat kami tiba, jalan di Arafah sudah sangat sesak. Sampai-sampai bus kami nyaris menyeruduk salah seorang jemaah Arab di depan kendaraan yang ditumpangi. Sempat juga muka si Arab itu memperlihatkan gestur tidak nyaman. Namun, pengemudi bus yang saya pimpin segera membelai-belai janggutnya. Si Arab yang sudah bermuka murka itu akhirnya tersenyum.

“Allah..Allah,” pekik si sopir bus kami.

Saya pun turun dari mobil untuk mencari tenda Tiga Utama. Saya berjalan cepat menguak lautan manusia sembari mata melotot setiap ada papan nama di gerbang tenda. Pas ada tanda PT Tiga Utama saya hendak melangkah masuk. Astaga, hampir saja saya menabrak istri tercinta di pintu masuk tenda.

“Mau ke mana ki?,” tanya istri yang belum hilang kaget dan herannya bisa berjumpa denhgan suaminya di pintu masuk kompleks tenda Tiga Utama.

“Ya, mencari tenda kita,” jawab saya kemudian menitip kantong kecil yang saya bawa.

Saya kemudian berlari menuju bus yang ditinggalkan. Mudah dikenali karena ada nomor 82 di depan kacanya. Saya memberi kode kepada para penumpang agar segera turun dan menuju ke tenda PT Tiga Utama mengikuti jejak pemandu.