Pikiran saya mulai macam-macam. Soalnya, menjelang pendaratan, pesawat akan melintas di sisi barat Teluk Bima. Di depan Pelabuhan Bima ada Pulau Kambing yang menjulang. Tetapi selama saya terbang dari Makassar ke Bima, pesawat tidak pernah melintas di atasnya. Tetapi di sebelah barat ada pegunungan Soromandi yang jika salah ‘senter’ bisa bernasib sama dengan ATR50 yang melabrak Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep-Maros, beberapa bulan lalu.
Pesawat terus menurunkan ketinggian. Kamera saya aktifkan. Merekam suasana di luar jendela yang hanya tampak kabut tebal. Saya yakin, Pilot bisa melihat situasi di depan sana. Pesawat terus menurunkan ketinggian. Tiba-tiba saya melihat moncong berbelok ke kiri. Tampak ada daratan di bawah sana sekaligus melegakan hati. Itu pinggir barat ujung selatan Teluk Bima, tempat bandara berada. Rupanya dia sudah melewati bandara dan melakukan sedikit manuver ke utara. Baru berbelok sedikit ke kanan dua kali dan bergerak lurus ke selatan kian merendah.
Tidak terasa, mata saya melihat deretan tambak yang ada di kiri kanan landasan pacu. Wah, kayaknya pesawat akan segera mendarat. Betul juga. Roda-roda pesawat terdengar menjerit, kemudian terasa hentakan pengereman sekali.
Hujan lebat agaknya baru saja turun sebelum pesawat mendarat.
Dalam sejarah terbang dari Makassar-Bima, ini kali kedua saya mengalami pendaratan paling menegangkan. Pada tahun 2017 justru lebih heboh lagi. Jarak Makassar-Bima kami tempuh total hampir tiga jam. Termasuk 2 jam berada di udara.
Adik-adik di Bima dan Mataram menelepon ke istri saya di Makassar, menanyakan jam berapa berangkat dari Makassar, kok belum juga tiba di Bima. Yang di Bima menjelaskan, tadi ada pesawat yang sudah di atas bandara, tetapi hilang lagi. Sampai sekarang belum kelihatan. Sudah hampir pukul 16.30, setelah meninggalkan Makassar pukul 13.00 Wita, baru pesawat mendarat.
“Kenapa tidak ke Mataram saja tadi, Mbak?,” tanya saya kepada seorang Pramugari begitu pesawat mendarat.
“Tadi kita sudah mau ke Mataram, tapi masuk laporan Bima, sudah bisa mendarat,” jawab sang Pramugari.
Cerita gagal “landing” di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin bukan pertama kali. Sudah terlalu sering terjadi terutama pada saat musim hujan.
Terakhir yang paling “parah” pada tanggal 24 Januari 2026, saat berpulang ke rakhmatullah Tuan Guru K.H. Muhammad Hasan, B.A.. Rombongan anak-anaknya yang terbang dari Jakarta yang sedianya akan mendarat sore di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin terpaksa balik ke Bandara Internasional Lombok (BIL) karena cuaca buruk dan menginap. Penerbangan dilanjutkan pagi-pagi keesokan hari.












