Tiba di Sumbawa, Prof. Thib menelepon saya. Memberi tahu pengalaman penerbangan mudiknya yang tidak biasa.
“Ini luar biasa, Aji. Bayangkan, tiket saya ini diurus oleh staf di Kantor Sekretariat Presiden. Mereka sampai mengantar saya ke pintu pesawat. Luar biasa perjalanan ini. Tiba di Sumbawa, saya dijemput mobil Pemda Kabupaten Bima,” kata Prof. Thib yang saya dapat kabar terakhir Kamis sore sudah tiba di Dompu, 66 km dari Kota Bima.
Wings Air Makassar-Bima pada pukul 15.25 sudah antre di samping barat ujung selatan landasan pacu bandara. Begitu pesawat Airbus Citylink menyentuh landasan, dia bergerak pelan menuju ujung landasan pacu. Pada pukul 15.30 pesawat akhirnya mengangkasa diiringi hujan gerimis tipis yang turun menjelang minggu ketiga Maret 2026.
Saya mencoba pulas pada kursi nomor 3A, tepat di jendela kiri pesawat. Saya memang menginginkan kursi dekat jendela sebelah kiri karena ingin mengabadikan pemandangan Kota Bima dari udara yang sudah lama saya tidak lakukan karena selalu naik kapal PT Pelni bareng keluarga. Cuaca di atas Laut Flores cerah. Gumpalan awan jauh di bawah sana tampak melayang kecil-kecil terpisah.
Sekitar pukul 16.15, bunyi Co Pilot kembali bersuara.
“Dari ruang kemudi, Co Pilot berbicara, dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin diinformasikan bahwa cuaca di atas bandara berada di bawah keselamatan pendaratan. Oleh sebab itu kita akan melakukan “holding” selama 20 menit,” katanya.
Saya pun melihat arloji, berarti sekitar pukul 16.35 baru bisa mendarat. Ternyata, waktu ini adalah jadwal tiba pesawat yang sebenarnya dan dimulainya pesawat harus melayang-layang menunggu cuaca yang memungkinkan bisa mendarat.
Jika memperoleh laporan “Air Traffic Control” (ATC) “Air Navigation” seperti ini, pesawat akan menghabiskan waktu di udara selama 20 menit sambil menunggu laporan kondisi cuaca berikutnya. Jika terbang dari Makassar ke Bima, matahari berada di sebelah kanan. Pada saat “holding”, saya mencatat tiga kali matahari bersinar di sebelah kiri saya yang duduk di dekat jendela. Berarti, pesawat sudah tiga kali balik kanan, mengarah ke utara.
Beberapa saat terdengar suara pramugari yang menginformasikan bahwa dalam waktu tidak lama kita akan segera mendarat.
“Mohon penumpang kembali ke tempat duduknya masing-masing dan tetap memasang sabuk pengaman,” seru seorang Pramugari, meskipun tahu, para penumpang sejak dari Makassar tetap terikat di kursinya masing-masing.
Usai pengumuman Pramugari, pesawat terus menurunkan ketinggian, tetapi mata saya yang di dekat jendela sebelah kiri tidak pernah melihat pemandangan apa-apa di luar sana, kecuali kabut tebal.












