Berdasarkan realitas penegakan hukum tersebut, publik tidak pernah betul percaya bahwa pemerintah dari waktu ke waktu akan mampu menegakkan keadilan secara bermartabat. Penegakan hukum masih akan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Keadilan akan tetap ‘berbulu’ dikaitkan dengan relasi kekuasaan. Padahal, negara ini sudah sejak dulu memproklamasikan diri sebagai negara hukum. Meskipun hanya sebuah utopia pada tataran narasi dan literasi belaka. Itulah wujud keadilan yang “berbulu”. (*).
Catatan MDA: Potret Hukum yang “Berbulu”
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Saya pun pergi mencari tempat keduanya menonton. Anak-anak menunjuk rumah tempat keduanya menonton. Lantaran saya tidak kenal nama siapa pemilik rumah, saya sampai di ujung desa, sekitar 200m jaraknya dari…

“Dengan demikian, nilai budaya dalam karya sastra tidak bersifat mutlak, tetapi bergantung pada konteks masalah dan perjalanan hidup yang dialami setiap tokohnya.(mda). Berita Terkait Catatan MDA: Potret Hukum yang “Berbulu”…

Saya membayangkan kemungkinan terburuk, mustahil PWI Sulsel akan menadatangani. Duka demi duka mengurus pencalonan ini belum juga usai. Bagaikan berlapis dan sistematis. Lolos yang ini, dihadang lagi pada syarat yang…

Proyek elitis ini memang menunggu waktu. Waktu untuk menciduk pengelolanya yang terjaring dalam tindak pidana. Bukan tidak mungkin mantan pejabat BGN akan bernyanyi dan membongkar semuanya. Mumpung kepalang basah. Kelak…

“Baik-baik ji. Nanti ketemu ji di wukuf,” kata Aidir menjawab kerinduan saya terhadap istri. Sekali waktu dalam perjalanan pulang dari Masjid Nabawi ke hotel saya bersama dengan seorang pembimbing agama…








