Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone sebagai Moment of Truth

Pada periode itulah, pekik “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” ia nyatakan dengan lantang sebagai tekadnya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ajoeba Wartabone adalah tokoh sekaligus aktor sejarah. Namanya tercatat sebagai intelektual awal Gorontalo.

Ia penulis, juga jurnalis, yang gagasan, pemikiran, dan visinya tentang nasionalisme selalu menjadi tema utama.

Ajoeba Wartabone adalah sejarah itu sendiri, yang meletakkan fondasi dan memberi penguatan kelembagaan dalam pemerintahan sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, 1949-1950, Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado, 1950-1951, dan Anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR), 1953-1956.

*Bukan Sekadar Bacaan*

Saya membaca buku biografi Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, dalam tempo kurang dari 10 hari.

Buku ini lebih dari sekadar bacaan karena kaya informasi dan sejarah. Ia tak hanya arsip dan dokumen tetapi medium.

Sebagai pembaca, saya seolah dibawa melewati berbagai ruang dan lorong waktu, dengan Ajoeba Wartabone sebagai figur sentralnya.

Ada banyak konteks sejarah yang dihadirkan, yang terverifikasi dan tervalidasi ke sumber-sumber resmi, mulai dari Arsip Nasional RI hingga Nationaal Archief, Den Haag, Belanda.

BACA JUGA:  Anak Hilang, Pulang Nak!

Lewat buku biografi sejarah Ajoeba Wartabone, kita dapat menganalisis karakter, pandangan, dan pengaruhnya bagi Gorontalo, Sulawesi, Indonesia Timur, dan Republik Indonesia yang dicintainya.

Buku ini berfungsi sebagai moment of truth, yang mengungkap peran kesejarahan Ajoeba Wartabone, walaupun terkesan agak terlupakan.

Padahal ia merupakan tokoh nasional, pelaku sejarah, dengan warisan semangat nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan yang kuat.

Bagi saya, membaca lembar demi lembar buku ini, selalu ada saja informasi yang menarik dan inspirasi yang memantik.

Muncul gairah untuk menelusuri, dan menuliskan kembali kisah-kisah Ajoeba Wartabone, sebagai bentuk edukasi dan literasi.

Karena itu, saya melipat sudut halaman (dog-ear) sebagai batas bacaan atau penanda hal-hal yang perlu saya kutip.

Saya melakukan marginalia, yaitu membuat coretan, memberi garis bawah pada kalimat, dan bikin catatan di pinggir halaman sebagai cara saya berdialog dengan buku ini.

Saya membuat banyak anotasi buku guna memudahkan penandaan dan membantu saya ketika menuliskan kembali sosok Ajoeba Wartabone dalam versi artikel yang lebih ringkas dan sederhana. (*)