Buku Biografi Ajoeba Wartabone dan Pentingnya Arsip Sejarah

Sejumlah foto terkait NIT dari Nationaal Archief di Den Haag, Belanda, dan Arsip Nasional RI, juga menjadi bagian penting dari buku ini.

Beberapa foto yang ditampilkan memperlihatkan Ajoeba Wartabone bersama rombongan Goodwill Missie NIT diterima secara resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, di Istana Negara, di Yogyakarta (18 Februari 1948).

Dalam pertemuan penting itu, hadir menteri-menteri, anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), petinggi sipil, dan perwira-perwira tinggi Angkatan Perang, antara lain Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Suryadarma, Laksamana Muda Pardi, dan Mayor Jenderal Purbonegoro.

Foto-foto lain, berbicara tentang misi diplomasi Parlemen NIT di mana Ajoeba Wartabone dan rombongan bertemu dengan sejumlah tokoh nasional, seperti, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.

Kunjungan Goodwill Missie di beberapa kota di Jawa ini mendapat publikasi luas media massa, kala itu. Harian pagi Nasional, edisi 19 Februari 1948, di halaman utamnya menuliskan optimismenya bahwa kolonialisme dan imperialisme akan berakhir.

BACA JUGA:  Janjian Bertemu di Warkop

“Bahwa yang satu asalnya nanti akan kembali bersatu lagi.”

Berita itu hendak menunjukkan bahwa politik adu domba dan pecah-belah lalu kuasai (devide et impera) dari penjajah Belanda, tidak akan berhasil.

Begitu kuatnya semangat persatuan sebagai perekat di antara tokoh-tokoh bangsa, yang terus berupaya mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.

Rombongan Misi Parlemen NIT yang lebih dikenal sebagai “Misi Persaudaraan” itu, berangkat dari Makassar ke Jakarta, 16 Februari 1948. Rombongan terdiri dari Arnold Mononutu (Ketua Tim), dengan anggota Dr H Bergema, Pastor A Conterius, Andi Gappa, Andi Massarapi, Anak Agung Nyoman Pandji Tisne, Ajoeba Wartabone, dan Tjan Tjoen Tek (Sekretaris).

Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas, Arnold Mononutu, selaku Ketua delegasi, menyampaikan pidato radio melalui corong RRI Makassar, pada Kamis, 11 Maret 1948. Surat kabar Pelita di Tomohon, terbitan Senin, 22 Maret 1948, mengutip utuh pidato tersebut.

Muhibah itu memberikan impresi yang kuat tentang daerah-daerah yang didatangi, seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Klaten, Malang, Bogor, dan Jakarta–semacam studi tiru, tetapi dalam bobot ikatan nasionalisme yang kental.

BACA JUGA:  Bisakah AI Menerjemahkan Bahasa Agama?

Tergambarkan dalam bunyi pidato Arnold Mononutu, yang mengatakan: “Menurut faham saya, persatuan antara kita dan Republik, persatuan antara rakyat di Indonesia Timur dan Republik Indonesia pada umumnya dapat dieratkan dan diperkokohkan.”

*Pembelajaran Sejarah*

Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, memberikan pembelajaran bahwa dengan dan melalui arsip sejarah, kita bisa melihat gagasan, visi, dan kepemimpin seseorang, yang menjadi legacy-nya.

Arsip-arsip itu bisa terjaga baik karena ada peran keluarga, negara, dan kaum cendekia (peneliti, arsiparis, penulis).

Arsip-arsip tersebut tak hanya berhenti sebagai tumpukan dokumen di ruang sunyi, tetapi dibunyikan, disuarakan, dan dinarasikan kembali untuk edukasi dan literasi.

Buku dan arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone masih sangat mungkin dikemas lagi secara kreatif, dialih-wahanakan menjadi film dokumenter, komik, animasi, novel, dan atau konten serial dalam format digital.

Apalagi bila kisah hidupnya dihubungkan dengan keluarga besarnya yang memiliki ketokohan, tentu akan sangat menarik.

Sehingga, benar apa kata penulis Amerika ternama, William Cuthbert Faulkner (1897-1962), bahwa “Masa lalu tidak pernah mati. Bahkan, itu belum berlalu.”