Bang Rusdin Tompo Membawa Beta Pulang ka Maluku

Yudistira Sukatanya, sastrawan dan budayawan, tampil sebagai pembicara ketiga dengan nada reflektif, nada orang yang membaca bukan hanya teks, tetapi juga konteks. Ia mengatakan bahwa membaca “Ana Makassar Basar di Ambon” terasa seperti diajak melancong ke Ambon, bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai penziarah ingatan. Baginya, buku ini bekerja sebagai esai sosiologis karena tidak sebatas bercerita tentang pengalaman personal, tetapi memotret relasi sosial, tradisi, dan perubahan budaya masyarakat Ambon. Namun esai itu tidak kaku; ia hadir dalam bentuk reportase jurnalistik yang ringan seperti yang disebutkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism, bahwa jurnalisme yang baik adalah “memberi makna pada fakta, bukan sebatas menyajikannya.” Rusdin Tompo, menurut Yudistira, menulis dengan mata jurnalis yakni mencatat detail, merawat suasana, dan menghadirkan realitas tanpa menggurui, sehingga pembaca merasa sedang diajak berjalan, bukan diajari berdiri.

Lebih jauh, Yudistira melihat buku ini sebagai praktik jurnalisme warga (citizen journalism) sebuah bentuk penulisan yang lahir dari pengalaman langsung warga, bukan dari menara redaksi. Dalam tradisi ini, penulis menjadi saksi sekaligus bagian dari peristiwa. Rusdin Tompo menulis sebagai “orang yang hidup di sana”, bukan sebagai pengamat dari luar. Ia juga menyebutnya sebagai jurnalisme demografis, karena buku ini dengan sadar menampilkan wajah manusia Ambon dalam keragamannya yakni lintas suku, lintas agama, lintas latar sosial. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Clifford Geertz tentang thick description bahwa kebudayaan harus dipahami lewat detail kehidupan sehari-hari, bukan generalisasi. Dengan cara itu, Ambon tidak hadir sebagai statistik konflik atau berita sensasional, melainkan sebagai ruang hidup yang berdenyut oleh relasi antar-manusia.

BACA JUGA:  Melihat Rumah Lebih Dekat

Yudistira juga menyoroti kekuatan bahasa. Bahasa orang Ambon, katanya, tegas dan lugas langsung ke pokok persoalan, tanpa banyak selubung. Dalam kajian linguistik budaya, bahasa seperti ini sering lahir dari masyarakat pesisir yang terbuka, egaliter, dan terbiasa berjumpa dengan banyak identitas. Dari situlah ia menyimpulkan bahwa Ambon adalah kota kosmopolitan sebuah kota yang sejak lama menjadi titik temu berbagai bangsa, agama, dan budaya, jauh sebelum istilah “multikulturalisme” menjadi wacana akademik. Ia berbicara sebagai orang Makassar yang “diundang” oleh buku ini untuk memahami Ambon bukan sebagai yang lain, bukan sebagai wilayah konflik, tetapi sebagai saudara jauh yang pernah dekat. Sebuah pengingat bahwa kosmopolitanisme sejati, seperti dikatakan Kwame Anthony Appiah, bukan tentang menghapus identitas, melainkan tentang kesediaan hidup bersama dalam perbedaan dan buku ini, menurut Yudistira, berhasil menghadirkan itu dengan jujur dan manusiawi.