Lalu, di tengah kalimat berikutnya, suaranya berhenti. Ia menunduk. Nafasnya tercekat. Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Ruangan seolah ikut menahan napas. Dr. Zulkarnain Hamson jurnalis yang terbiasa mengelola emosi di depan publik kini tidak lagi mampu menyembunyikan haru. Air mata jatuh perlahan. Barangkali ingatan tentang Maluku datang terlalu dekat yakni tentang “pela gandong” yang kini merenggang, tentang “basudara” yang dulu baku jaga kini saling curiga. Maluku bukan lagi sebatas wilayah baginya, melainkan luka kolektif yang belum sepenuhnya sembuh. Dalam diam itu, kesedihan berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Ketika ia kembali mengangkat kepala, suaranya nyaris bergetar. “Izinkan saya mengatakan satu hal,” ujarnya lirih. “Bung Rusdin Tompo ini telah menjadi manusia Indonesia yang utuh.” Ia menambahkan, Bung Rusdin berhasil menjadi orang Ambon meskipun ia orang Makassar. Sebuah penegasan bahwa identitas tidak hanya ditentukan oleh darah dan asal, tetapi oleh kesediaan memahami, mencintai, dan hidup bersama. Dalam bahasa Maluku yaitu “ale bukan orang sini karena lahir di sini, tapi karena ale jaga katong pung rasa basudara”. Dan di situlah, di ruang persidangan museum kota Makassar, nostalgia menemukan wajahnya yang paling jujur perih, hangat, dan penuh cinta.
Pembicara kedua, Pdt. Michael Matulessy, membuka suaranya dengan pengakuan yang jujur. “Beta jujur sadiki… beta gugup,” katanya sambil tersenyum, membuat ruangan seketika mencair. Ia bilang, ini pertama kali beta bicara di tengah orang-orang dengan latar belakang yang beragam yakni agama, budaya, cara pandang. Biasanya, beta cuma berdiri di mimbar gereja, bicara dengan jemaat yang sudah beta kenal. Suaranya khas Ambon, keras tapi hangat, lugas tapi penuh rasa. “Waktu beta baca buku ini,” katanya, “perasaan beta campur aduk. Ada haru, ada bahagia. Ternyata di Makassar ini ada banyak beta pung basudara.” Ucapannya sederhana, tapi mengandung makna sosial yang dalam yakni bahwa relasi kultural orang Maluku tidak pernah benar-benar putus oleh jarak. Dalam kajian antropologi Maluku, relasi ini dikenal sebagai ikatan _basudara_ sebuah konsep kekerabatan sosial yang melampaui darah dan agama, sebagaimana dicatat Dieter Bartels dalam Guarding the Invisible Mountain (1977), bahwa identitas Maluku dibangun dari rasa saling memiliki, bukan sebatas kesamaan asal.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang perlahan berubah lirih. “Beta rasa, baca buku ini tu… kaya beta ada di Ambon skali.” Namun kebahagiaan itu tidak lama berdiri sendiri. Ada sedih yang menyelinap. Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Yang beta paling sedih,” katanya pelan, “waktu ade Rusdin carita tentang keragaman yang dulu tu… sekarang kaya su hilang.” Ia menyebut _”pela gandong”_ tradisi persaudaraan antar-negeri di Maluku yang dulu menjadi fondasi toleransi hidup bersama, kini tidak lagi dirawat seperti dulu. Dalam perspektif sosiologi budaya, _”pela gandong”_ adalah bentuk _social capital_ yang merekatkan masyarakat lintas iman, jauh sebelum konsep toleransi dibahas di ruang akademik. “Beta menangis waktu baca itu,” lanjutnya jujur. ‘Karena buku ini bikin beta mangerti, toleransi di Ambon itu bukan teori. Dia lahir dari hidup bersama, dirawat dari hari ke hari. Sekarang… bingkai itu su kaya retak.” Kata-katanya jatuh satu-satu, seperti hujan di atap seng jujur, nyaring, dan menyisakan gema panjang di dada siapa pun yang mendengarnya.












