Bang Rusdin Tompo Membawa Beta Pulang ka Maluku

Saya mengenal Abang Rusdin Tompo sejak 2019. Ia bukan hanya guru menulis, tapi penyalur api. Dari tangannya, saya diperkenalkan dengan banyak tokoh literasi di Sulawesi Selatan. Ia mengajarkan bahwa menulis bukan soal pintar merangkai kalimat, tapi berani merawat ingatan dan keberpihakan. Ia kerap berkata dengan caranya sendiri yakni tulisan harus jujur, dan kejujuran selalu menemukan jalannya.

Kesempatan pertama berbicara diberikan kepada Dr. Zulkarnain Hamson. Ia tidak tergesa menyusun kesimpulan, sebagaimana seorang jurnalis yang tahu betul bahwa cerita yang kuat selalu berangkat dari ingatan. Suaranya tenang, tertata, seperti orang Maluku yang hendak buka carita lama pelan, penuh rasa, dan memberi ruang bagi yang mendengar untuk ikut duduk dalam ingatan itu. Ia berbicara seolah sedang menyusun kembali serpihan masa lalu yang selama ini tersimpan rapi, tapi tidak pernah benar-benar pergi.

Ia bertutur bahwa membaca “Ana Makassar Basar di Ambon” karya Bang Rusdin Tompo bukan sebatas membaca buku, melainkan sebuah proses komunikasi batin antara teks, pengalaman hidup, dan ingatan kolektif orang Maluku. Buku itu, katanya, menghidupkan kembali Maluku yang pernah berjalan dalam keseharian yakni Maluku yang hidup dalam “baku dapa, baku jaga, dan baku sayang”. Bukan Maluku yang sibuk memproduksi jargon toleransi, tetapi Maluku yang menjalani toleransi sebagai napas hidup. Dalam kajian komunikasi budaya, ini sejalan dengan pandangan Edward T. Hall tentang high-context culture, di mana nilai dan makna tidak dijelaskan secara verbal, melainkan diwariskan lewat laku hidup sehari-hari.

BACA JUGA:  Momentum May Day: Ilusi Kesejahteraan Buruh Dalam Sistem Kapitalisme

Ia lalu masuk pada satu fondasi penting kehidupan orang Maluku yakni “pela gandong”. Sebuah ikatan persaudaraan antar-negeri yang telah hidup jauh sebelum negara dan agama modern hadir di Maluku. Dalam catatan antropolog Dieter Bartels (Guarding the Invisible Mountain, 1977), pela gandong bukan sebatas perjanjian sosial, melainkan sistem moral kolektif yang mengikat orang Maluku untuk saling melindungi, bahkan lintas iman dan pulau. “Katong bisa beda agama,” kata Dr. Zulkarnain, “tapi katong satu gandong.” Ikatan ini bekerja sebagai modal sosial (social capital) yang menjaga harmoni yakni saat satu negeri susah, negeri gandong wajib datang membantu, tanpa tanya latar belakang.

“Toleransi itu dulu,” katanya pelan, “tidak dipidatokan.” Ia menegaskan bahwa nilai hidup bersama kala itu tidak diumumkan di mimbar, tidak ditulis di spanduk. Ia hidup dalam tindakan yaitu saat gereja dibangun, masjid ikut bantu; saat masjid berdiri, gereja ikut jaga. Dalam bahasa komunikasi, ia menyebut bahwa pesan paling kuat bukanlah yang diteriakkan, melainkan yang hidup diam-diam dalam perilaku, sejalan dengan gagasan Marshall McLuhan bahwa the medium is the message. “Cara hidup orang Maluku itulah pesannya”.