News  

Sejauh Ini, dari Lakon ke Lakon (3): (Perjalanan R. Eko Wahono Bersama Teater Lho Indonesia)

Menutup dekade ketiga perjalanan Teater Lho Indonesia, Eko Wahono mempersembahkan Borka — sebuah lakon yang mempertemukan puisi, filsafat, dan eksistensialisme lokal.

Lakon ini berpusat pada ruang bawah tanah — ruang yang diselimuti larangan dan misteri. Paman berusaha keras meyakinkan Nenek untuk memberinya izin masuk ke sana. Tapi Nenek menolak. Rahasia ruang itu hanya diwariskan kepada Borka, anak yang tampak polos namun menyimpan kebingungan batin.

Borka tak mampu menyimpan rahasia. Ia bercerita kepada Sirin, anak angkat Paman. Rahasia itu menyebar, dan sejak saat itu, bola cahaya — benda yang ada di ruang bawah tanah — menjadi obsesi semua orang. Mereka saling mencurigai, saling menginginkan, dan pada akhirnya saling menghancurkan.

Bola cahaya dalam lakon ini bukan benda konkret, melainkan simbol pengetahuan, keinginan, dan kuasa. Setiap tokoh menafsirkannya berbeda-beda: bagi Paman, itu adalah kunci kebenaran; bagi Nenek, itu rahasia keluarga; bagi Sirin, itu kebebasan; bagi Borka, itu sekadar keindahan yang memikat.

Eko Wahono membangun panggung Borka sebagai ruang psikis manusia modern — ruang bawah tanah yang berisi hasrat tersembunyi kita semua. Ia menggarapnya dengan atmosfer dingin: lampu biru pucat, bunyi denting logam, dan bayangan yang menari di dinding.

BACA JUGA:  Hadiri Konferensi PGRI Cabang Watang Sawitto, Dr Basri: Tanpa Guru Kita Bukan Siapa-siapa

Para pemain — Yunus Yanseda (Borka), Rosniati Wodong (Nenek), Umar Ratuloly (Paman), dan Witari Ardini (Sirin) — berperan dengan intensitas yang menahan. Tidak ada ledakan emosi, yang ada hanya tekanan batin yang dalam. Seperti yang sering dilakukan Eko, keheningan menjadi dialog utama.

Borka juga menjadi renungan personal bagi Eko Wahono. Setelah kehilangan dua sahabat dekatnya, penata cahaya alm. Budi Sempet dan alm. Amaq Hadi, lakon ini seperti doa persembahan bagi mereka. Ruang bawah tanah menjadi metafora bagi dunia arwah — tempat para sahabat yang telah berpulang, tempat kenangan disimpan, dan tempat cahaya terakhir bersemayam.

Dalam catatan akhir pementasan, Eko menulis:
“Tanpa mereka, Teater Lho Indonesia mungkin sudah berhenti. Tapi berkat mereka, teater ini masih punya cahaya, meski kecil.”

Kalimat itu seperti mengikat seluruh perjalanan panjang Teater Lho Indonesia selama lebih dari tiga dekade: perjalanan dari panggung tanah ke ruang bawah tanah, dari tubuh ke cahaya, dari dunia ke kenangan.

Refleksi

BACA JUGA:  Garuda Asta Cita Nusantara Dukung Presiden Prabowo Hapus Utang Petani dan Nelayan Serta Menaikkan UMP Pekerja

Empat lakon terakhir ini — Te Seboq Siq Beboro, Catastrophe (‘Bahle’), Fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya, dan Borka — adalah puncak kematangan spiritual dan artistik Eko Wahono. Ia telah menempuh jalan panjang dari teater sosial menuju teater kesadaran, dari kritik sosial menuju meditasi eksistensial.