News  

Pesparawi Nasional XIV: Sulut Juara Umum dan PSA Sulsel Sabet Champion Gold

Semangat Ramah Lingkungan

Dalam pidatonya sebelum menutup acara, Menag menekankan bahwa Pesparawi bukan sekadar ajang adu bakat tarik suara, melainkan wadah pemersatu bangsa yang merawat kerukunan sekaligus meneguhkan kepedulian terhadap kelestarian alam.

“Beberapa hari ini, seluruh atensi bangsa tertuju pada Papua Barat, tempat di mana keberagaman suku, bahasa, dan budaya dari Sabang sampai Merauke melebur menjadi satu harmoni persaudaraan. Melalui kidung pujian, kita merayakan indahnya hidup rukun dalam kebinekaan yang menjadi pilar utama NKRI,” tutur Menag.

Menag menambahkan, filosofi Pesparawi mengajarkan bahwa keselarasan tercipta dari keberagaman yang berjalan beriringan, saling menghargai, dan melengkapi demi tujuan mulia. Di tengah dinamika global, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan positif seperti ini untuk memperkokoh jiwa gotong royong bangsa.

Secara khusus, Menag memberikan apresiasi tinggi atas diangkatnya tema “Pesparawi Nasional Ramah Lingkungan” pada perhelatan ke-14 ini, yang dinilai sebagai perwujudan konkret dari program prioritas Kementerian Agama terkait ekoteologi.

“Agenda ini menjadi pengingat penting bahwa pengabdian iman tidak hanya seputar hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya,” jelasnya.

BACA JUGA:  Gubernur Kaltara Kunjungi Perkebunan Bawang di Sossok Enrekang

Gerakan peduli lingkungan yang melibatkan sekitar 8.000 peserta dan ribuan suporter ini dinilai sukses membangun kesadaran kolektif. Kebiasaan membawa tumbler mandiri, meminimalkan plastik sekali pakai, serta memilah sampah menjadi aksi nyata demi mewujudkan Indonesia yang ASRI (aman, sejuk, resik, indah).

Ia berharap kebiasaan hijau yang telah dipraktikkan selama kompetisi tidak menguap begitu saja, melainkan terus diimplementasikan oleh para peserta sekembalinya mereka ke daerah masing-masing.

“Kita telah membuktikan kepada dunia bahwa nilai-nilai spiritualitas dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan sebagai fondasi pembangunan negara yang berkelanjutan,” tegas Menag.

Menag juga menyampaikan pesan menyentuh bahwa seluruh kontingen adalah pemenang sejati karena membawa misi perdamaian dan kelestarian alam. Baginya, kemenangan hakiki bukan diukur dari banyaknya trofi, melainkan dari kontribusi nyata dalam menampilkan wajah Indonesia yang damai dan penuh toleransi.

Di akhir amanatnya, Menag menghaturkan terima kasih mendalam kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, LPPN, panitia pelaksana, TNI/Polri, tokoh agama, serta relawan yang telah memastikan acara berjalan aman, tertib, dan kondusif.