News  

PARKIR di MIWF 2026, Mendorong Mobilitas Warga Pulau yang Inklusif

“Di pulau ini menarik. Warga punya hiburan. Naik odong-odong 1000 per orang, untuk kasi tidur anaknya. Lagu-lagunya yang populer di TikTok, dan bisa di-request,” kisah Usi Luna tersenyum.

Kisah lainnya tentang mantan penyelam pencari teripang atau dalam bahasa Makassar disebut pataripang.

Namanya Daeng Maudu, 61 tahun, yang mengalami kelumpuhan. Dia lumpuh dan tidak lagi bisa menyelam mencari teripang. Kini dia hanya akdoang-doang atau sekadar mencari cumi-cumi.

Harga cumi-cumi Rp60.000/kg. Namun Daeng Maudu, terkadang hanya bisa peroleh setengah kilo, bila cuaca buruk. Akibatnya, dia tidak bisa membeli kebutuhan sehari-hari.

Disampaikan pula, fasilitas untuk penyandang disabilitas dibangun, seperti guiding block tetapi tidak bisa digunakan karena tertimbun pasir atau rusak.

Tulisan-tulisan yang disatukan itu, ungkap Usi Luna, merupakan pengalaman personal tetapi dikerjakan secara kolaboratif atas bantuan fasilitator.

Disampaikan, aksesibilitas dan fasilitas pendukung untuk penyandang disabilitas masih sangat minim di Barrang Lompo. Padahal kalau ada alat bantu, penyandang disabilitas bisa mandiri.

Diskusi mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Ada yang berasal dari mahasiswa, kepala Puskesmas, aktivis NGO, dan pemerhati isu-isu perkotaan dan layanan publik.

BACA JUGA:  IKA SMANSA 82 Gelar Buka Puasa Bersama di Baruga Siamaseang

Daeng Maliq sebagai host menyimpulkan, bahwa akses informasi penting bagi warga pulau. Begitupun political will pemerintah dalam melaksanakan regulasi yang ada.

Sementara itu, partisipasi warga juga perlu dioptimalkan sejak perencanaan, seperti Musrenbang, hingga pelaksanaan dan evaluasi.

“Berlakulah adil sejak dalam pikiran,” kunci Daeng Maliq menutup diskusi sore itu. (*)