Jadi, tantangannya bukan pada pengadaannya, tetapi bagaimana memastikan program pemerintah tetap berkelanjutan.
Sebagai warga Barrang Lompo, Marwa mengungkapkan bahwa mereka punya semangat kebersamaan yang sangat kuat. Misalnya, ada warga yang hidup sebatang kara, dan mengalami kebutaan. Tetangga datang membantu, memberikan makanan, memasak dan membersihkan rumahnya.
Ini dialami Ibu Rabiah, 60 tahun, yang mengalami hambatan dalam bermobilitas karena buta. Selama setahun terakhir, dia tidak bisa ke mana-mana.
“Padahal dahulu dia selalu jalan karena sebagai pedagang kue. Sekarang hanya bisa sebatas pagar rumahnya saja,” kisah Marwa.
Luna Vidya menyampaikan bahwa apa yang diceritakan Inna dan Marwa merupakan bagian dari dinamika masyarakat pulau.
Disampaikan, ada fenomena di pulau. Anak-anak punya sepeda listrik. Kalau tidak dibelikan orangtuanya, dia menangis.
“Kami di kegiatan PARKIR bukan hanya melihat kendaraan ini rendah karbon dan emisi. Tapi ancaman sampah elektronik di Pulau Barrang Lompo ke depan. Setiap hari ada sepeda listrik dibawa ke pulau. Mereka bisa beli, tapi baterainya mahal,” ujar Luna Vidya.
Persoalan penyandang disabilitas juga dikemukakan. Ada seorang anak bernama Aulia, 8 tahun, murid kelas 2 SD. Sama sekali belum bisa menggunakan bahasa isyarat. Di sekolah ia kesulitan memahami pelajaran. Aulia hanya nyaman berkomunikasi dengan ibunya.
Ketika ditanyakan kepada salah seorang gurunya, perlunya pendamping juru bahasa isyarat. Guru tersebut menjawab, “Apakah tidak merepotkan, mendatangkan juru bahasa isyarat untuk mengajar satu anak?”
“Di pulau ini menarik. Warga punya hiburan. Naik odong-odong 1000 per orang, untuk kasi tidur anaknya. Lagu-lagunya yang populer di TikTok, dan bisa di-request,” kisah Usi Luna tersenyum.
Kisah lainnya tentang mantan penyelam pencari teripang atau dalam bahasa Makassar disebut pataripang.
Namanya Daeng Maudu, 61 tahun, yang mengalami kelumpuhan. Dia lumpuh dan tidak lagi bisa menyelam mencari teripang. Kini dia hanya akdoang-doang atau sekadar mencari cumi-cumi.
Harga cumi-cumi Rp60.000/kg. Namun Daeng Maudu, terkadang hanya bisa peroleh setengah kilo, bila cuaca buruk. Akibatnya, dia tidak bisa membeli kebutuhan sehari-hari.
Disampaikan pula, fasilitas untuk penyandang disabilitas dibangun, seperti guiding block tetapi tidak bisa digunakan karena tertimbun pasir atau rusak.
Tulisan-tulisan yang disatukan itu, ungkap Usi Luna, merupakan pengalaman personal tetapi dikerjakan secara kolaboratif atas bantuan fasilitator.
Disampaikan, aksesibilitas dan fasilitas pendukung untuk penyandang disabilitas masih sangat minim di Barrang Lompo. Padahal kalau ada alat bantu, penyandang disabilitas bisa mandiri.
Diskusi mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Ada yang berasal dari mahasiswa, kepala Puskesmas, aktivis NGO, dan pemerhati isu-isu perkotaan dan layanan publik.
Daeng Maliq sebagai host menyimpulkan, bahwa akses informasi penting bagi warga pulau. Begitupun political will pemerintah dalam melaksanakan regulasi yang ada.
Sementara itu, partisipasi warga juga perlu dioptimalkan sejak perencanaan, seperti Musrenbang, hingga pelaksanaan dan evaluasi.
“Berlakulah adil sejak dalam pikiran,” kunci Daeng Maliq menutup diskusi sore itu. (*)












