“Kami belajar penelitian partisipatif, dan kerja kolaboratif. Kami mengalami bagaimana orang Barrang Lompo bermobilitas. Kami pagi-pagi berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa menuju ke Barrang Lompo. Perjalanan kurang lebih 1 jam,” kisah Inna, begitu sapaan akrabnya.
Inna melanjutkan ceritanya. Ada pengalaman menarik, ketika ia melihat sekantong cabe dilemparkan dari satu kapal ke kapal lainnya. Transaksi ala orang pulau ini, oleh teman-teman disebut COD (cash on delivery), yakni model belanja online bayar ditempat.
Dikatakan, warga punya alat transportasi macam-macam antara lain sepeda motor dan sepeda listrik. Fasilitas juga ada, seperti Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Reduce, Reuse, Recycle (3R), tetapi terkesan kurang terurus.
Damtor atau Pemadam Kebakaran Lorong, dan Amtor, Ambulans Motor juga teronggok, tidak berfungsi.
Begitupun dengan Ambulans Laut, juga tidak jalan karena alasan biaya operasional, termasuk ongkos BBM.
“Kalau kondisi darurat, terpaksa warga pakai jolloro. Alasannya lebih mudah, murah, cepat. Jolloro lebih jadi pilihan dibanding Ambulans Laut,” kata Inna.
Jadi, tantangannya bukan pada pengadaannya, tetapi bagaimana memastikan program pemerintah tetap berkelanjutan.
Sebagai warga Barrang Lompo, Marwa mengungkapkan bahwa mereka punya semangat kebersamaan yang sangat kuat. Misalnya, ada warga yang hidup sebatang kara, dan mengalami kebutaan. Tetangga datang membantu, memberikan makanan, memasak dan membersihkan rumahnya.
Ini dialami Ibu Rabiah, 60 tahun, yang mengalami hambatan dalam bermobilitas karena buta. Selama setahun terakhir, dia tidak bisa ke mana-mana.
“Padahal dahulu dia selalu jalan karena sebagai pedagang kue. Sekarang hanya bisa sebatas pagar rumahnya saja,” kisah Marwa.
Luna Vidya menyampaikan bahwa apa yang diceritakan Inna dan Marwa merupakan bagian dari dinamika masyarakat pulau.
Disampaikan, ada fenomena di pulau. Anak-anak punya sepeda listrik. Kalau tidak dibelikan orangtuanya, dia menangis.
“Kami di kegiatan PARKIR bukan hanya melihat kendaraan ini rendah karbon dan emisi. Tapi ancaman sampah elektronik di Pulau Barrang Lompo ke depan. Setiap hari ada sepeda listrik dibawa ke pulau. Mereka bisa beli, tapi baterainya mahal,” ujar Luna Vidya.
Persoalan penyandang disabilitas juga dikemukakan. Ada seorang anak bernama Aulia, 8 tahun, murid kelas 2 SD. Sama sekali belum bisa menggunakan bahasa isyarat. Di sekolah ia kesulitan memahami pelajaran. Aulia hanya nyaman berkomunikasi dengan ibunya.
Ketika ditanyakan kepada salah seorang gurunya, perlunya pendamping juru bahasa isyarat. Guru tersebut menjawab, “Apakah tidak merepotkan, mendatangkan juru bahasa isyarat untuk mengajar satu anak?”













