News  

Membedah Strategi Perjuangan Bung Hatta

NusantaraInsight, Makassar — Di kantor bersama LINGKAR–Ma’REFAT, Kota Makassar, gagasan tentang strategi perjuangan Bung Hatta dibedah dengan serius, seperti sedang mencari arah di tengah kecenderungan gerakan yang kian reaktif.

Program “Membaca Kembali Bung Hatta” seri ke-17, yang digelar oleh Ma’REFAT Institute bekerja sama dengan Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH) dan Book Club Alumni SPBH-1, mengangkat tema “Strategi Perjuangan”. Diskusi yang berlangsung pada Minggu, 12 April 2026 itu menghadirkan dua orang pemantik: Hasbullah Hakim, CEO Dialektika Bookshop Makassar; dan Tanwir, yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta.

Diskusi dibuka tepat pada pukul 13.30 Wita. Dalam pengantarnya, Ahmad Hasan selaku moderator, menegaskan bahwa strategi perjuangan dalam pandangan Mohammad Hatta tidak dapat dipahami sebagai sekadar metodologi atau teknik gerakan. “Strategi bukan metodologi, tetapi implikasi atau konsekuensi logis dari asas yang dianut,” ujarnya membuka diskusi.

Pernyataan itu menjadi titik tolak diskusi, bahwa arah dan bentuk perjuangan tidak berdiri sendiri, melainkan ditentukan oleh prinsip dasar yang diyakini oleh suatu gerakan. Tanpa kejelasan asas, strategi akan mudah berubah-ubah dan kehilangan arah.

BACA JUGA:  Arwan Tjahjadi: Pengusaha Makassar Ikut Semarakkan HUT ke-80 RI di IKN

Dalam pemaparan pembuka, Hasbullah Hakim menegaskan bahwa Bung Hatta memberikan batas yang tegas antara dua strategi perjuangan politik yang berkembang pada masa kolonial, yakni Kooperasi Demonstratif dan Non-Kooperasi. Perbedaan tersebut, menurutnya, tidak hanya terletak pada cara bertindak, tetapi terutama pada dasar pemikiran yang melandasinya.

“Bagi Bung Hatta, Kooperasi Demonstratif itu basisnya kekecewaan terhadap sistem kolonial, sementara Non-Kooperasi asasnya perlawanan,” ujar Hasbullah.

Bagi Hatta, perjuangan bukanlah ledakan spontan yang lahir dari kemarahan sesaat. Ia adalah proses yang menuntut pemahaman yang mendalam. Ia menjelaskan bahwa Kooperasi Demonstratif muncul dari sikap tidak puas terhadap praktik pemerintahan kolonial, namun belum sampai pada penolakan total terhadap sistem yang ada.

Sebaliknya, Non-Kooperasi menurut Bung Hatta didasarkan pada sikap yang lebih tegas, yakni perlawanan terhadap kolonialisme itu sendiri. Strategi ini tidak lagi bertujuan memperbaiki sistem, melainkan menolak legitimasi kekuasaan kolonial secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka membangun gerakan politik sendiri sebagai sarana perjuangan, dengan orientasi yang jelas: mencapai kemerdekaan yang sejati, bukan sekadar kompromi dalam kerangka kekuasaan kolonial.