Tanwir melanjutkan dengan penegasan bahwa strategi perjuangan Bung Hatta tidak bisa dipahami sebagai manuver sesaat. Ia justru dibangun di atas fondasi yang panjang, melalui pendidikan politik, pembentukan kader, dan disiplin organisasi.
Menurutnya, banyak kalangan yang menganggap Non-Kooperasi sebagai sikap pasif, tidak mau tahu terhadap pemerintah kolonial dan menarik diri dari dinamika politik. Namun, Bung Hatta justru mengkritik keras pandangan tersebut.
“Non-Kooperasi itu sering dipahami sebagai tidak mau tahu pemerintah. Padahal itu keliru. Hatta menegaskan Non-Kooperasi justru mensyaratkan aksi,” ujar Tanwir.
Ia menjelaskan, dalam perspektif Hatta, Non-Kooperasi bukanlah bentuk penghindaran, sebaliknya, merupakan strategi aktif dalam perjuangan politik yang bertujuan mencapai kemerdekaan. Oleh karena itu, bentuk-bentuk perlawanan seperti pengorganisasian massa, pendidikan politik, dan gerakan sosial tetap harus dilakukan sebagai bagian dari perjuangan melawan kolonialisme.
Sebagai refleksi, Tanwir menyebutkan bahwa banyak gerakan muncul hari ini sebagai respons terhadap kebijakan tertentu, tetapi tidak memiliki kerangka strategis yang berkelanjutan. Akibatnya, energi gerakan cepat habis setelah momentum berlalu.
Sesi diskusi berlangsung intens dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta. Sapril, salah seorang peserta kemudian menarik refleksi ke situasi politik hari ini. Menurutnya, kompleksitas justru semakin tinggi karena “lawan” tidak lagi jelas seperti pada masa kolonial. “Kalau dulu yang dilawan itu kolonial Belanda. Sekarang kita berhadapan dengan sesama kita sendiri. Itu yang justru lebih sulit,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Hasbullah menegaskan bahwa semangat Non-Kooperasi tidak serta-merta kehilangan relevansinya. Ia melihat bahwa pola-pola kekuasaan yang menyerupai praktik kolonial masih dapat ditemukan dalam kehidupan politik kontemporer, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
“Kalau kita lihat lebih dalam, praktik-praktik seperti represi terhadap aktivis, pembungkaman kritik, atau ketimpangan kekuasaan itu masih ada. Ini menunjukkan bahwa semangat Non-Kooperasi sebenarnya masih relevan, hanya konteksnya yang berubah,” tegasnya.
Dari situ, ia menekankan pentingnya membaca kembali pemikiran Bung Hatta bukan sekadar sebagai kajian historis, melainkan sebagai alat refleksi kritis terhadap posisi politik saat ini.
Diskusi berakhir tepat pukul 16.00 Wita. Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (RW)













