News  

Maggot Masuk Lapas

NusantaraInsight, Makassar — Upaya penanganan sampah dari sumber (hulu) terus digencarkan di Makassar. Sejalan dengan program Pemerintah Kota yang dipimpin oleh Munafri Arifuddin, pendekatan zero waste mulai diperkuat dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kolaborasi antara Yayasan Butta Porea Indonesia dengan Lapas Kelas I Makassar dalam program Integrated Urban Farming, khususnya pada sektor budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik.

Program ini bertujuan untuk mengatasi persoalan sampah dari hulu, sehingga beban TPA Antang dapat diminimalisasi. Dengan semangat zero waste, pengelolaan sampah tidak lagi berfokus pada pembuangan, melainkan penyelesaian langsung dari sumbernya, termasuk di lingkungan lapas.

Saat ini, volume sampah organik di Lapas Kelas I Makassar diperkirakan mencapai ±500 kg per hari, yang sebelumnya menjadi tantangan serius dalam pengelolaan lingkungan.

Budidaya maggot sebenarnya telah berjalan, namun kehadiran Yayasan Butta Porea Indonesia memberikan penyempurnaan sistem, baik dari sisi teknis maupun kapasitas produksi.
Pakar maggot dari Yayasan Butta Porea Indonesia, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa sistem yang akan diterapkan menggunakan dua pola strategi zero waste, yaitu desentralisasi dan sentralisasi.

BACA JUGA:  Pemprov Kaltara Diganjar Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2025 dari KIP RI

Pada pola desentralisasi, fase awal kehidupan maggot (dari bayi hingga usia ±12 hari) ditempatkan langsung di blok hunian warga binaan. Dengan pendekatan ini, warga binaan dapat secara langsung memberikan sisa makanan dan sampah organik kepada maggot, sekaligus terlibat aktif dalam proses penguraian sampah.

Setelah memasuki fase berikutnya, maggot akan dipindahkan ke sistem sentralisasi di area Kebun Asimilasi dan Edukasi. Pada tahap ini, maggot memasuki fase prepupa, pupa, hingga menjadi serangga Black Soldier Fly (BSF), kemudian bertelur dan menghasilkan kembali baby maggot sebagai bagian dari siklus berkelanjutan.

Keunggulan Sistem Dua Pola

Sistem ini memiliki sejumlah keunggulan strategis, di antaranya:
1. Aman untuk Lapas
Tidak menimbulkan lalat di dalam blok, minim bau, dan berisiko rendah
2. Efisien
Sampah langsung diolah dari sumbernya
3. Terukur
Produksi dan pengolahan dapat dikontrol dengan baik
4. Edukatif
Melibatkan seluruh warga binaan dalam kegiatan produktif
5. Berkelanjutan

Siklus maggot berjalan tanpa terputus
Setelah pemaparan konsep, Rahmat Hidayat, Sp.i secara langsung menyampaikan rencana implementasi kepada Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, didampingi Kepala Bidang Bimbingan Kerja, Hendrik. Dalam kesempatan tersebut, diajukan usulan untuk memulai uji coba (trial) pada satu blok hunian sebagai tahap awal sebelum diterapkan secara menyeluruh.