Asdar menegaskan posisi LDII dalam membangun kolaborasi dengan berbagai komponen bangsa. “LDII ingin bersanding dalam membangun Indonesia, bukan bertanding, apalagi bersaing.”
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan LDII Sulsel dalam membangun hubungan dengan organisasi keagamaan, pemerintah, aparat keamanan, dan elemen masyarakat lainnya.
Bersanding berarti menempatkan perbedaan sebagai bagian dari realitas sosial yang dapat dikelola melalui komunikasi dan kerja sama. Dengan cara itu, organisasi tidak harus menjadi sama untuk dapat bekerja bersama.
*Dialog sebagai Ruang Merawat Kebangsaan*
Kehadiran berbagai unsur dalam Dialog Kebangsaan di Al-Markaz Al-Islami menunjukkan bahwa persoalan persatuan membutuhkan partisipasi banyak pihak.
Pemerintah memiliki peran dalam memastikan kebijakan berjalan adil. Aparat keamanan menjaga stabilitas. Organisasi keagamaan membangun pendidikan dan pembinaan masyarakat. Sementara tokoh agama dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk opini dan perilaku sosial.
Semua unsur tersebut memiliki ruang kontribusi masing-masing.
Karena itu, dialog kebangsaan menjadi penting bukan hanya untuk menyampaikan pandangan, tetapi juga untuk membangun kesamaan persepsi mengenai masa depan Indonesia.
Di tengah arus informasi yang begitu cepat, perbedaan pandangan dapat dengan mudah membesar ketika tidak diimbangi komunikasi. Dialog tatap muka menjadi salah satu cara untuk membangun kepercayaan dan mencegah prasangka.
Bagi DPW LDII Sulsel, keikutsertaan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun komunikasi lintas organisasi dan memperkuat kontribusi kebangsaan.
Moderasi beragama pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalankan agama, tetapi juga bagaimana ia hidup bersama orang lain yang berbeda.












