Sebaliknya, ruang dialog perlu terus dibuka agar masyarakat dapat menemukan titik temu. Dalam konteks kehidupan beragama, komunikasi antarelemen umat menjadi salah satu cara untuk membangun saling pengertian.
*Pancasila sebagai Titik Temu*
FOTO
Asdar juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang final dan menjadi titik temu seluruh komponen bangsa.
Menurut dia, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terjebak pada ego kelompok. Empat pilar kebangsaan juga perlu dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalannya bukan sekadar mengetahui konsep kebangsaan, melainkan bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi perilaku.
Ketika masyarakat mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok, perbedaan dapat menjadi kekayaan sosial. Sebaliknya, ketika ego kelompok menjadi dominan, perbedaan berpotensi berkembang menjadi konflik.
“Kalau setiap kelompok lebih mengedepankan ego masing-masing, perbedaan bisa berkembang menjadi potensi perpecahan yang mengancam persatuan dan keutuhan bangsa,” ujar Asdar.
Pandangan tersebut menempatkan moderasi beragama bukan hanya sebagai isu keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan sosial dan kebangsaan.
*LDII: Ingin Bersanding, Bukan Bertanding Apalagi Bersaing*
Bagi LDII Sulsel, membangun persatuan tidak berarti menghilangkan identitas masing-masing organisasi. Setiap organisasi tetap dapat menjalankan peran dan programnya, sepanjang kontribusi tersebut diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
Asdar menegaskan posisi LDII dalam membangun kolaborasi dengan berbagai komponen bangsa. “LDII ingin bersanding dalam membangun Indonesia, bukan bertanding, apalagi bersaing.”
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan LDII Sulsel dalam membangun hubungan dengan organisasi keagamaan, pemerintah, aparat keamanan, dan elemen masyarakat lainnya.
Bersanding berarti menempatkan perbedaan sebagai bagian dari realitas sosial yang dapat dikelola melalui komunikasi dan kerja sama. Dengan cara itu, organisasi tidak harus menjadi sama untuk dapat bekerja bersama.
*Dialog sebagai Ruang Merawat Kebangsaan*
Kehadiran berbagai unsur dalam Dialog Kebangsaan di Al-Markaz Al-Islami menunjukkan bahwa persoalan persatuan membutuhkan partisipasi banyak pihak.
Pemerintah memiliki peran dalam memastikan kebijakan berjalan adil. Aparat keamanan menjaga stabilitas. Organisasi keagamaan membangun pendidikan dan pembinaan masyarakat. Sementara tokoh agama dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk opini dan perilaku sosial.
Semua unsur tersebut memiliki ruang kontribusi masing-masing.
Karena itu, dialog kebangsaan menjadi penting bukan hanya untuk menyampaikan pandangan, tetapi juga untuk membangun kesamaan persepsi mengenai masa depan Indonesia.
Di tengah arus informasi yang begitu cepat, perbedaan pandangan dapat dengan mudah membesar ketika tidak diimbangi komunikasi. Dialog tatap muka menjadi salah satu cara untuk membangun kepercayaan dan mencegah prasangka.
Bagi DPW LDII Sulsel, keikutsertaan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun komunikasi lintas organisasi dan memperkuat kontribusi kebangsaan.
Moderasi beragama pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalankan agama, tetapi juga bagaimana ia hidup bersama orang lain yang berbeda.












