NusantaraInsight, Bima — Para Alumnus IAIN (UIN) Alauddin Makassar yang berasal dari Bima, sukses melaksanakan reuni lintas generasi di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bima, Ahad (22/3/2026).
Lima alumnus yang berhasil meraih jabaran Guru Besar hadir di antara sekitar 200 orang alumnus dalam kegiatan yang dihelat Ketua Panitia H.Mansyur S.Ag dan Sekretaris Ilham Usman, M.Si.
Di antara Guru Besar yang hadir, Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. (Guru Besar UIN Jakarta/Universitas PTIQ Jakarta dan Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta), Prof.Dr. Muhammad (Dosen UIN Mataram/Ketua Komite Pendirian IAIN Bima), Prof. Dr. Muslimin H.Kara, S.Ag., M.A. dan Prof. Dr. Hamzah Hasan, M.HI (UIN Alauddin Makassar), serta Prof. Dr. Qadri. (UIN Mataram), serta Drs.Syarifuddin M.H.(alumnus 1986 yang kini bertugas sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Agama NTB).
Lulusan yang hadir dalam acara reuni ini berasal dari Fakultas Tarbiyah, Syariah, Ushuluddin, Adab, Dakwah, juga Fakultas Ekonomi Bisnis Islam dan Fakultas Sains dan Teknologi, dua fakultas baru yang lahir setelah IAIN berubah nomenklatur menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin.
Prof. Ahmad Thib Raya menilai pelaksanaan reuni alumni lintas generasi ini merupakan gagasan yang luar biasa dan hendaknya tidak berhenti sampai pada kali pertama.
“Pertemuan ini sangat bersejarah karena merupakan yang pertama. Belum pernah dilakukan sebelumnya. Ini hebatnya. Yang menggagas reuni ini luar biasa pahalanya karena sudah mempertemukan kita, mulai generasi yang termuda sampai generasi yang tertua,” kata Prof.Thib.
Pada kesempatan itu, para alumni yang menjabat Guru Besar menyampaikan testimoni tentang perjuangannya menuntut ilmu di IAIN Alauddin Ujungpandang. Namun sebelum acara resmi penyampaian testimoni motivasi dimulai, duet pembawa acara Hj. Sarni, S.Ag.-Hj Erny Johar S.Ag. sudah mulai “membocorkan” kenangan masa lalu mereka yang humoris.
Ada seorang teman yang baru tiba di Makassar, biasa disapa Ro. Di Bima, nama Ro merupakan ‘penggalan’ nama panjang bisa Rodianana atau Rosmawati. Jadi, pemilik nama itu tidak dipanggil sesuai nama aslinya, tetapi potongan dua huruf namanya, Ro.
Suatu pagi tiba-tiba terdengar suara penjual ikan menjajakan jualanya mendekati rumah kontrakan mahasiswa Bima tersebut.
“ Sibula,tembang, bannyara, mairo,” teriak penjual ikan tersebut sembari kian menghampiri tempat kontrakan para mahasiswa asal Bima tersebut seperti dituturkan Hj Sarni S.Ag yang bertindak sebagai pembawa acara bersama Erny Johar.
Mendengar teriakan penjual ikan itu, salah seorang mahasiswa yang biasa disapa Ro mulai heran bin kaget.












