News  

Kenangan Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima : Dari Penjual Ikan Hingga Cerita Cinta

“Oh..iya, Ustaz,” jawab Fuad, diikuti Thib yang mengarahkan “Honda” menuju rumah, tempat pakaian yang dikenali itu dijemur.
“Assalam alaikum ww.,” Thib melempar salam, diikuti terdengar suara balasan dan jawaban salam dari dalam, disusul Thib mendengar orang berbisik keras.

“Tante, ada dosenku datang,” begitu suara perempuan yang ternyata sedang menonton TV kemudian bergegas menemui tantenya.
Thib dan Fuad pun masuk.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahui alamat saya?,” tanya si mahasiswa mengetahui tiba-tiba saja dosennya muncul di depannya, padahal dia pernah meminta kepada siapa pun agar tidak membocorkan alamatnya.

“Saya ini memiliki keluarga jin. Dia-lah yang saya utus mencari alamat sebelum saya datang,” jawab Thib yang tentu saja membuat kian aneh bin ajaib si mahasiswa dan tantenya. Kalau Fuad sih sudah ‘tahu permainan” ini.

Singkat kisah, Thib mau melamar perempuan tersebut. Apalagi ternyata saat itu dia memandang wajah si doi tersebut, tak tampak bayangan wajah Guru. Kalau tampak berarti melarang. Kali ini, berarti okey..

BACA JUGA:  Hari Bahagia, IKA Smansa 80 Gelar Family Gathering di Balla Lompoa Sanrobone

Thib pun meminta foto perempuan tersebut. Si perempuan bukan fotonya yang diberikan, melainkan klise (negatif)-nya, sehingga Thib mencetaknya beberapa lembar. Dia simpan pada beberapa tempat, termasuk di lemari rumah kontrakannya.

Foto itu pun dibawa ke Bima dan diperlihatkan pada Guru untuk dimintai restu melalui ‘istikharah”-nya. Satu minggu setelah Guru istikharah, keputusannya belum muncul. Sepuluh hari istikharah berlalu, pun belum turun hasilnya. Sampai pada suatu hari Guru berkata.

“Anak ini, dari segi agama bagus. Keturunannya juga bagus. Dan dari perilakunya, pun baik. Tetapi, untuk mencapainya (menjadikannya sebagai istri), banyak jalan berliku yang harus dilalui,” kata Guru mengungkapkan hasil istikharahnya pada hari ke-15.

“Itulah cara Guru mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap suatu keinginan anak-anaknya. Selalu menggunakan amsal dan bahasa yang kias.

Tidak pernah menggunakan kalimat langsung,” tutup Thib kemudian langsung mohon izin karena harus menjemput Prof.Dr. Hj. Musdah Mulia, M.A., istrinya, yang seharusnya hadir dalam acara reuni, namun baru mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, dari Lombok, pada pukul 13.30 hari itu.

BACA JUGA:  IKA SMANSA Gelar Buka Puasa Bersama, Andi Ina Kartika Bangga Atas Pencapaian Panitia TENAS IV Yogyakarta

Testimoni pun dilanjutkan oleh para alumnus yang hadir. Penulis yang bukan alumni IAIN (UIN) Alauddin juga didapuk menyampaikan testimoni inspiratif.

“Saya juga heran mengapa juga didaulat menyampaikan testimoni, padahal bukan alumni IAIN Alauddin. Tetapi, saya sadar dan menduga alasannya karena dianggap orang yang menjadi pemicu keberhasilan seorang alumni UIN Alauddin, Ahmad Thib Raya, sebagai Profesor.

Ketua Panitia Pelaksana Reuni Alumni Lintas Generasi H. Mansyur. S.Ag., yang juga Kepala Kantor Kemenag Kota Bima menutup kegiatan dengan ucapan terima kasih dan “alhamdulillah”. (M.Dahlan Abubakar).