News  

Kenangan Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima : Dari Penjual Ikan Hingga Cerita Cinta

Prof. Thib Raya dilepas ke Makassar dengan hanya satu tujuan, menuntut ilmu.
“Saya sebenarnya dilarang oleh Guru (panggilan Prof. Thib terhadap ayahnya, TGKH Muhammad Hasan, B.A., Allah Yarham) karena ketiadaan biaya. Juga Guru selalu membandingkan ada orang Parado yang pergi bersekolah di Malang, pulang ke Bima tidak membawa gelar sarjana, tetapi hanya membawa pulang istri dan anak,” ujar Thib mengawali testimoninya.

Katanya lagi, “ketika akhirnya Guru dengan rida melepas saya pergi ke Makassar, beliau memanggil saya ke kamarnya. Beliau hanya mengatakan, saya lepaskan Ananda untuk mencari ilmu, bukan untuk yang lainnya,” Thib bernostalgia.

Sejak itu, di benak Thib hanya ada satu frasa, menuntut ilmu. Pernah beberapa kali ada perempuan yang ‘berniat’ singgah di hatinya. Namun setiap Thib memandang perempuan tersebut selalu tergambar wajah Guru (ayahnya) di wajah sang gadis. Itu tanda larangan berpacaran. Begitulah kisah yang dialami Thib dengan seorang rekan mahasiswa perempuan yang sejak tingkat I hingga IV sudah ‘terpikat’ padanya.

BACA JUGA:  Rakernas XVII Apkasi 2026 Ditutup, Bupati Sidrap Tegaskan Komitmen Dukung Agenda Nasional

Tetapi, ada seorang mahasiswa asal Soppeng yang paling cantik di kelasnya. Saking menjadi primadona kampus, sampai-sampai lembar demi lembar bajunya pun dihafal mati oleh para mahasiswa lainnya. Lebih khusus lagi, oleh para mahasiswa laki-laki. Waktu itu Thib sudah menjadi dosen di IAIN Alauddin. Thib ingin sekali mengetahui alamat si mahasiswa putri itu, tapi tampaknya dia sudah mewanti-wanti teman-temannya untuk tidak memberi tahu alamatnya kepada siapa pun. Termasuk kepada dosennya.

Suatu hari, Thib berniat mencari alamat mahasiswa tersebut. Modalnya, mengingat warna baju yang biasa dipakai sang mahasiswa. Thib pun mengajak seorang teman kosnya, Fuad H.Abdul Gany (kini pensiunan Kemenag dan tinggal di Jakarta).

Sebelum meninggalkan Jl. Manuruki, kediaman mereka, keduanya sepakat berboncengan menunggang “honda” (sebutan sepeda motor di Bima). Operasi pelacakan alamat dilaksanakan pada hari Ahad sehabis pukul 12.00. Thib beralasan, pada pagi hari Ahad, biasanya mahasiswa itu mencuci pakaian. Nanti menjelang siang baru menjemurnya. Jadi, kalau setelah pukul 12.00, pakaian itu sudah bisa dilihat berkibar-kibar di depan rumahnya atau di tempat yang terkena sinar matahari.

BACA JUGA:  Camat Tamalate Dampingi Wali Kota Makassar Tinjau Pembebasan Lahan Jembatan Kembar Barombong

“Honda” meluncur meninggalkan selatan kota ke utara kota
“Kamu lihat sebelah kiri, saya sebelah kanan,” titah Thib kepada Fuad beberapa saat kemudian, saat “honda” baru saja berbelok dari Jl. Sunu berbelok ke kanan memasuki Jl. Datuk Ri Tiro. Operasi pencarian alamat si cantik bermodalkan warna baju ini akan dimulai dari arah barat.

Sepanjang Jl. Datuk Ri Tiro mata Fuad menyapu semua halaman rumah warga di sebelah kiri. Thib sambil mengemudi “honda” juga menyisir rumah penduduk di sebelah kanan.

“Tidak ada Ustaz,” kata Fuad saat sepeda motor sudah tiba hampir mentok di ujung Jl. Datuk Ri Tiro.

“Sekarang kita balik dan bagi tugas. Fuad yang sebelah kanan, saya lagi sebelah kiri,” kata Thib kemudian mengubah arah ‘Honda’ bergerak dari timur ke barat. Berlawanan dengan arah pelacakan pertama.

“Honda” pun bergerak pelan lagi ke barat, membawa dua “dua pemburu alamat” yang aneh ini. (Karena mencari alamat bukan berdasar nama jalan dan nomor rumah, melainkan berpatokan pada kibaran pakaian pemilik rumah yang dijemur dan mudah terlihar, he..he..).

BACA JUGA:  Founder K-apel Serahkan Buku Surat Cinta untuk Suami kepada Anggota DPR RI

Saat menjelang “Honda” memotong Jl. Petta Ponggawa, Thib menghentikan tunggangannya karena matanya melihat “lambaian” baju yang “mencurigakan”.
“Fuad, bukan itu bajunya?,” Thib memberi tahu sahabat pelacak alamatnya itu setelah menghentikan “Honda” yang dikemudikannya. Thib melihat ada baju yang dikenalnya berkibar-kibar ditiup angin siang hari Ahad itu.