“Jadi kesyahidan Yahya Sinwar dalam pertempuran di front terdepan di Rafah adalah memang bentuk dari perjuangan Yahya Sinwar untuk membela Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsa,” sambungnya.
Nur Ikhwan mengungkapkan, Yahya Sinwar kerap kali memberikan komandan dalam setiap operasi perlawanan yang dilakukan Hamas melalui sayap militernya, Brigade Al-Qassam.
“Mungkin banyak yang mengira bahwa Yahya Sinwar itu duduk dalam sebuah ruangan, mengomando dari terowongan. Tapi ternyata dia ikut baku tembak bahkan dalam ratusan pertempuran di Koridor Philadelphia yang memisahkan Gaza Utara dan Gaza Tengah. Dia juga yang mengomando tanggal 7 Oktober (Taufan Al-Aqsa), dia juga mengomando perlawanan di Gaza Utara, di Rafah, dan lainnya. Dia telah mengondisikan Hamas di Gaza, baik secara manajemennya, maupun militernya. Jadi memang Al-Qassam bisa melakukan serangan-serangan di bawah komando beliau,” jabarnya.
Nur Ikhwan berulang kali mengucapkan selamat atas peraihan gelar tertinggi yang diperoleh Yahya Sinwar yakni syahid fii sabilillah.
“Sekali lagi kami mengucapkan selamat kepada Yahya Sinwar, dia telah bertemu dengan Rabbnya dengan jalan yang beliau rindukan, jalan yang memang dirindukan setiap muslim yang menginginkan syahid. Sekali lagi kami mengucapkan selamat kepada Yahya Sinwar. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan syahid juga kepada kita, seluruh umat Islam,” tuturnya.
Nur Ikhwan mengatakan, syahidnya Yahya Sinwar akan semakin menambah keimanan dan kekuatan umat Islam untuk memperjuangkan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsa.
“Kami yakinkan bahwa darah yang keluar dari tubuh Sinwar tidak akan pernah melemahkan perjuangan umat Islam di seluruh dunia bahkan insya allah perjuangan umat Islam yang benar-benar ikhlas untuk membela Baitul Maqdis dan membela Palestina, membela Masjid Al-Aqsa akan terus bertambah, keimanannya dan kekuatannya akan bertambah. Mudah-mudahan darah yang tumpah dari tubuh Yahya Sinwar menjadi pupuk iman umat Islam di seluruh dunia sehingga akan menambah suburnya iman, menambah semangat perjuangan untuk membela Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsa. Insya Allah,” pungkasnya.
Yahya Sinwar (62), Kepala Biro Politik Hamas, Pemimpin gerakan perlawanan terbesar Palestina di Gaza, telah syahid dalam pertempuran di garis depan di Rafah, Gaza Selatan melawan pasukan penjajah Israel, Kamis (17/10).
Militer Israel merilis rekaman drone yang menunjukkan Sinwar bertarung hingga napas terakhirnya, melemparkan tongkat ke arah drone tersebut meski terluka parah.
Pihak Israel secara tidak sengaja menemukan Sinwar dan pejuang-pejuang lainnya, meskipun ada klaim bahwa pembunuhannya adalah hasil dari upaya intelijen AS dan Israel.[]












