Menata Trotoar, Menjaga Pohon, Konsep Hijau Revitalisasi Kajaolalido-Thamrin

“Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja,” ujar Faris saat menjelaskan pentingnya aspek keselamatan dalam penataan pohon.

Ia menjelaskan, persoalan lain yang perlu diperhitungkan adalah karakter akar ketapang kencana yang dapat tumbuh cepat ketika mendapatkan sumber air dan nutrisi dari sistem drainase.

Jika ketapang kencana tetap dipertahankan dengan sistem drainase baru, menurutnya, akar pohon berpotensi tumbuh masuk ke jaringan tersebut.

Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan drainase tersumbat dan meningkatkan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur.

“Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada,” jelasnya.

Karena itu, opsi yang didorong bukan menghilangkan fungsi penghijauan, melainkan mengganti jenis pohon dengan tanaman yang lebih sesuai dengan karakter kawasan.

Faris menyebut sejumlah pohon natif Sulawesi yang dapat menjadi pilihan, salah satunya pohon bitti atau Vitex cofassus.

Pohon ini memiliki nilai kultural yang kuat di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi, termasuk untuk bagian utama kapal.

BACA JUGA:  Apresiasi Bupati Firdaus untuk Tenaga Teknis

Pilihan lainnya adalah padiasa atau Kleinhovia hospita, yang juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Selain itu, terdapat Elaeocarpus atau jenis pohon yang dikenal dengan nama jati tri/jelatri sebagai alternatif vegetasi.

Menurut Faris, jenis-jenis tersebut memiliki karakter perakaran yang relatif lebih mudah dikendalikan. Pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan root barrier maupun pemangkasan akar secara berkala sehingga pertumbuhan akar tidak mengganggu drainase dan utilitas.

“Bukan pohonnya ditebang dan dihilangkan. Tetapi diganti dengan jenis pohon yang baru, yang kebetulan juga adalah pohon natif Sulawesi,” katanya.

Meski demikian, Faris menegaskan pemilihan jenis pohon nantinya tetap perlu dikoordinasikan dengan tim desain dan desainer lanskap.

Jenis tanaman yang dipilih harus disesuaikan dengan konsep, bentuk, fungsi, serta kebutuhan kawasan pedestrian.

Ia mengatakan, masih terdapat sejumlah pilihan vegetasi lain yang dapat digunakan, termasuk beberapa jenis tanaman dengan karakter tajuk dan ukuran yang lebih sesuai untuk ruang perkotaan.

Untuk pohon asam, Faris menyebut jenis tersebut juga dapat dipertimbangkan pada lokasi yang memiliki ruang lebih luas.

BACA JUGA:  Ketua AAI Sulsel Apresiasi Pemkab Luwu Timur, ini Sebabnya

Meski bukan tanaman asli Indonesia, pohon asam telah lama tumbuh dan digunakan di Indonesia serta memiliki manfaat ekologis.