Ia merespon positif solusi dari Pemkot Makassar menyiapkan ratusan pohon endemik ditanaman di ruas jalan tersebut.
Rully menjelaskan, karakter akar yang ekspansif dapat menimbulkan konflik dengan pedestrian maupun infrastruktur lain ketika ruang tumbuh akar terbatas.
Karena itu, menurutnya, pemotongan akar bukan menjadi solusi jangka panjang. Sehingga ia menawarkan konsep dalam pembangunan pedestrian.
“Kalau akarnya kita potong, kemudian trotoarnya kita perbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Sehingga butuh strategi,” imbuh Rully.
Dia mengatakan, penanganan vegetasi dalam proyek revitalisasi diarahkan pada penggantian pohon dengan spesies yang memiliki karakter sistem perakaran lebih sesuai untuk kawasan pedestrian.
Pemilihan jenis pohon juga didorong untuk mempertimbangkan aspek adaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat.
“Secara teknis, pohon itu harus dihilangkan, bukan sekadar dibuang, tetapi diganti dengan pohon lain yang akarnya lebih ramah. Sebisa mungkin kita memilih pohon asli atau pohon natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat,” katanya.
Menurut Rully, pemilihan pohon pengganti tidak boleh hanya mempertimbangkan bentuk tajuk atau nilai estetika, tetapi juga karakter perakaran dan ruang tumbuh yang tersedia.
“Jenis pohonnya juga harus dipilih yang akarnya tidak agresif atau ekspansif. Dengan begitu, daya tahannya bisa lebih lama,” jelasnya.
Ia menilai, pendekatan tersebut penting agar persoalan yang sama tidak kembali muncul setelah pedestrian selesai dibangun.
Rully menekankan, keberhasilan penanaman pohon di kawasan pedestrian tidak cukup hanya dengan menyediakan lubang tanam.
Menurutnya, perencana harus memperhitungkan ruang tumbuh akar sejak tahap awal pembangunan.
“Yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukan sekadar lubang untuk menanam, tetapi ruang bagi akarnya untuk tumbuh. Kita sering tidak melihat bagian yang berada di bawah tanah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, akar membutuhkan air dan oksigen untuk dapat tumbuh dengan baik.
Karena itu, desain pedestrian harus memungkinkan air dan udara tetap mencapai ruang tumbuh akar.
“Supaya pohon bisa tumbuh, tanah harus memiliki air dan oksigen. Kalau semuanya tertutup sehingga air dan oksigen tidak bisa masuk, akar akan mati,” terangnya.
Konsep tersebut, lanjut Rully, dapat diterapkan dengan menyediakan ruang tanah di bawah pedestrian serta menggunakan material perkerasan yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.
“Walaupun trotoarnya tidak terlalu besar, bagian dalamnya dapat diisi tanah dan bagian atasnya menggunakan perkerasan yang memungkinkan air masuk, misalnya beton berpori,” tuturnya.












