Menata Trotoar, Menjaga Pohon, Konsep Hijau Revitalisasi Kajaolalido-Thamrin

“Dengan begitu, akar dapat tumbuh di dalam ruang tersebut dan tidak cepat muncul ke permukaan,” lanjutnya.

Selain mengidentifikasi konflik antara akar dan infrastruktur, tim arboris juga melakukan kajian terhadap pohon-pohon tua yang berada di sekitar kawasan pedestrian, khususnya jalur menuju kawasan Lapangan Karebosi.

Menurut Rully, penanganan pohon tua pada lokasi tersebut memiliki pertimbangan yang berbeda dengan pohon yang berkonflik dengan infrastruktur.

Jika konflik akar dengan pedestrian lebih berkaitan dengan keberlanjutan fungsi infrastruktur, kondisi pohon tua memiliki dimensi keselamatan yang lebih besar karena berkaitan langsung dengan pengguna jalan dan masyarakat.

Di sisi lain, dekat Lapangan Karebosi dan seterusnya, ada jalur yang berisi pohon-pohon tua.

“Ini berbeda kasus, kalau yang tadi adalah konflik permanen antara pohon dengan infrastruktur dan utilitas,” ujarnya.

Karena itu, kajian terhadap pohon dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing vegetasi, termasuk potensi risiko terhadap lingkungan sekitar.

Rully menegaskan, penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian seharusnya menjadi bagian dari perencanaan kawasan secara menyeluruh.

BACA JUGA:  Disdik Makassar Dorong Budaya Baca Sejak Dini!

Dengan memperhitungkan jenis pohon, karakter akar, ruang tumbuh, kebutuhan air dan oksigen, serta hubungan vegetasi dengan infrastruktur.

Keberadaan pohon di kawasan pedestrian diharapkan tetap dapat memberikan manfaat ekologis dan estetika tanpa menimbulkan persoalan baru terhadap fasilitas publik.

“Pendekatan ini, menjadi bagian dari upaya menghadirkan pedestrian yang tidak hanya nyaman bagi pejalan kaki, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan,” tukasnya.

Pada kesempatan ini, salah satu perwakilan Arborist yakni Faris menjelaskan, pohon yang nantinya ditanam sebagai pengganti akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif, termasuk tanaman yang merupakan pohon natif Indonesia dan memiliki keterkaitan kuat dengan ekosistem maupun budaya Sulawesi.

Menurutnya, penggantian sejumlah pohon, khususnya ketapang kencana di kawasan depan Karebosi, bukan semata-mata karena pohon tersebut berukuran besar.

“Persoalan utamanya adalah kondisi beberapa pohon dan potensi konflik sistem perakaran dengan infrastruktur serta jaringan utilitas yang berada di kawasan pedestrian,” saran Faris.

Dia menyebut terdapat pohon yang kondisinya sudah memiliki banyak rongga dan kemiringan sekitar 40 derajat.

BACA JUGA:  Dewan Lingkungan Bahas RKTL Bersama Empat Camat di Kantor Kecamatan Tamalate

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas dan berolahraga di sekitar kawasan Karebosi.