Munafri Pimpin Rakor Matangkan Strategi Hadapi “El Nino Godzilla”

Selain krisis air, ia juga menekankan potensi peningkatan risiko kebakaran akibat suhu panas dan angin kering yang mempercepat penyebaran api.

Untuk itu, seluruh sumber daya, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran, diminta siaga penuh dalam upaya pencegahan dan penanganan dini.

Di sektor kesehatan, Pemkot Makassar juga mengantisipasi lonjakan kasus penyakit seperti ISPA, penyakit kulit, dehidrasi, hingga potensi peningkatan penyakit menular seperti tuberkulosis (TB).

Dengan antisipasi yang matang, Munafri meminta petugas lapangan, termasuk BPBD, Damkar, camat, dan lurah, untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker saat bertugas.

Lebih jauh, Munafri juga mengingatkan bahwa dampak El Nino dapat merembet ke sektor ekonomi, termasuk potensi kenaikan harga bahan pangan akibat gagal panen.

“Ini harus kita antisipasi sejak dini,” kata orang nomor satu Kota Makassar itu.

Untuk memastikan efektivitas penanganan, ia menekankan pentingnya integrasi lintas OPD dalam satu sistem kerja yang saling terhubung, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Politisi Golkar itu, bahkan mendorong adanya wilayah percontohan sebagai model simulasi terpadu penanganan krisis.

BACA JUGA:  HKBN 2026 di Makassar: BPBD Siapkan Apel Besar dan Edukasi Anak Lewat Program SALAMA

Di akhir arahannya, Munafri mengajak seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk tetap tenang, namun waspada.

Ia menegaskan bahwa kesiapan data, perencanaan matang, serta ketersediaan cadangan sumber daya menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi krisis.

“Yang penting kita mampu menghitung dan memastikan ketersediaan sumber daya. Jangan panik, tapi harus siap,” tutup Appi.

Sedangkan, Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, menjelaskan bahwa fenomena El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, fenomena El Nino kerap berpasangan dengan La Nina dalam siklus iklim global,” paparnya.

Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1997–1998, 2015–2016, serta 2023 yang bahkan sempat membuat Makassar menetapkan status darurat kekeringan.

Sekarang masuk siklus 2026, setelah sebelumnya 2025 dipengaruhi La Nina yang cenderung basah.

“Ketika suhu laut memanas, maka potensi kekeringan panjang akibat el
Nino menjadi sangat tinggi,” jelasnya.

BACA JUGA:  Tok!, APBD Perubahan Makassar Rp5,26 Triliun Disahkan

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Makassar berharap dapat meminimalisir dampak kekeringan serta memastikan kesiapsiagaan seluruh elemen dalam menghadapi ancaman El Nino 2026.

Lanjut dia, aksi nyata dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB), juga dilibatkan, termasuk organisasi kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, PMI, Baznas, serta relawan seperti Kalla Rescue serta Bosowa Peduli.

“Kita bentuk operasi terpadu satu komando agar distribusi bantuan dan penanganan bisa lebih cepat dan efektif. Semua sudah memiliki protap yang jelas,” tegas Fadli.

Ia menambahkan, Pemkot Makassar juga telah memiliki dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) untuk berbagai jenis bencana, termasuk kekeringan.

Dokumen tersebut menjadi acuan teknis dalam merumuskan langkah penanganan secara sistematis dan terukur.

Fadli menyebutkan, terdapat tiga dampak utama yang harus diantisipasi selama periode El Nino, yakni krisis air bersih, peningkatan risiko kebakaran, serta gangguan kesehatan masyarakat.

“Krisis air menjadi dampak paling awal dan paling terasa. Bahkan di musim hujan saja, beberapa wilayah seperti Tallo sudah mengalami kekurangan air bersih,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Munafri Terima Aspirasi Buruh FSPMI

Selain itu, risiko kebakaran dipastikan meningkat drastis akibat kondisi kering dan angin panas. Untuk itu, Dinas Pemadam Kebakaran akan disiagakan secara maksimal di wilayah rawan.