Munafri Pimpin Rakor Matangkan Strategi Hadapi “El Nino Godzilla”

Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan juga diminta bersiaga menghadapi potensi peningkatan penyakit seperti ISPA, dehidrasi, hingga penyakit menular yang cenderung meningkat saat musim kemarau panjang.

“Puncak dampak diperkirakan terjadi hingga Oktober, dengan intensitas tertinggi sekitar bulan tersebut,” katanya.

BPBD Makassar telah memetakan sedikitnya enam kecamatan yang diprediksi mengalami dampak paling signifikan, yakni Kecamatan Tallo, Panakkukang, Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, dan Ujung Tanah.

“Tallo menjadi wilayah paling rawan, terutama di kawasan Buloa yang bahkan saat musim hujan pun masih mengalami kekurangan air,” jelas Fadli.

Meski demikian, wilayah lain seperti Tamalate dan Ujung Pandang juga tetap berpotensi terdampak, meskipun tidak secara langsung, misalnya melalui gangguan distribusi air atau pemadaman listrik.

Saat ini, BPBD Makassar telah memasuki tahap prasiaga sejak Maret hingga April, dengan melakukan survei lapangan untuk memastikan kondisi riil di setiap wilayah terdampak.

“Data sebenarnya sudah ada, tapi kami tetap turun ke lapangan untuk memastikan tingkat kekeringan terbaru sebagai dasar intervensi,” ujarnya.

BACA JUGA:  Jamu Delegasi Rakernas II ASITA, Munafri-Aliyah Promosikan Kekuatan Wisata Makassar

Menariknya, dalam upaya penanganan, BPBD juga membuka peluang pendanaan dari luar APBD melalui koordinasi dengan BNPB dan Kementerian BUMN.

“Kami diberi peluang untuk mencari dukungan pendanaan eksternal, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada APBD. Ini penting agar penanganan bisa lebih optimal,” tambahnya. (*)