News  

Langkah Bersama Mengembalikan Pohon Kehidupan: Warga Kanreapia Jemput Piala Kalpataru

Gowa, NusantaraInsight — Angin lembut berselimut kabut membawa kabar gembira ke lembah Kanreapia. Di batas desa antara Kanreapia dan Pattapang kecamatan Tombolopao kabupaten Gowa, Jumat 25 Juni 2026, ratusan warga berkumpul, tangan saling berjabatan, wajah-wajah bercampur haru dan tawa.

Di antara riuh doa dan nyanyian gotong royong, sebuah piala Kalpataru dibawa berarak, kilau logamnya seperti cermin kecil bagi kerja keras sebuah komunitas yang tak kenal lelah menjaga rumah bersama, yaitu alam mereka.

Penghargaan Kalpataru yang disematkan pada Kanreapia tahun ini terasa istimewa karena merupakan pengulangan sejarah.

Empat puluh tahun silam, pada 1986, desa ini pertama kali menerima penghargaan serupa. Kini, setelah lintasan waktu yang panjang, Kanreapia kembali berdiri di panggung penghargaan lingkungan itu sebuah bukti konsistensi yang lahir dari kebersamaan.

“Kami tidak bekerja sendirian,” kata Jamal, penerima penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, matanya berkaca-kaca saat berbicara di hadapan tetangga.

“Ini capaian seluruh masyarakat Kanreapia. Setiap kegiatan gotong royong, dari Akkammisi, Sibalii hingga Sikio, menyulam kami jadi satu kekuatan,” serunya dengan bibir bergetar bukan karena dingin, tapi karena rasa haru yang menjelma ke permukaan.

BACA JUGA:  Dukungan Ridwan Yusuf Pimpin GP Ansor Sulsel Menguat

Kekompakan itu memang nyata terlihat, walaupun verifikasi yang ketat dan proses administrasi yang panjang dilalui bersama; setiap warga turun tangan ketika literasi lingkungan dan aksi sadar iklim dijalankan.

Mereka menanam pengetahuan berbarengan dengan pohon, memasang pagar hidup untuk mencegah erosi, dan merawat mata air untuk generasi yang belum lahir.

Piala Kalpataru kemudian diarak keliling desa sebuah ritual syukur sederhana yang mengubah jalan setapak menjadi parade kebanggaan.

Sirajuddin Suro, salah seorang tokoh masyarakat, tak dapat menyembunyikan kebanggaannya.

“Kalpataru adalah bukti,” ujarnya pelan, seolah menimbang setiap kata. “Bukti bahwa sejak 1986 hingga kini, tradisi gotong royong tetap menyala. Kami menjaga desa bukan demi nama, tapi karena ini rumah kita bersama.”

Bagi warga Kanreapia, Kalpataru lebih dari sekadar piala. Ia menjadi simbol pohon kehidupan yang akarnya meresap ke kultur dan rutinitas sehari-hari.

Nilai-nilai adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang mereka praktikkan dituangkan lewat kegiatan edukasi, perbaikan tata ruang lingkungan, dan aksi nyata yang terukur.

BACA JUGA:  Rapat Persiapan Pemilu Raya RT - RW di Kota Makassar

Literasi lingkungan dibawa ke balai desa, ke sekolah, bahkan ke pertemuan keluarga; setiap warga menjadi bagian dari kurikulum cinta alam.