News  

Teriakan “Ewako” Menggelegar Saat Paduan Suara Sulsel Tampil Spektakuler di Kategori PSDC Pesparawi XIV

Manokwari, NusantaraInsight -– Gempita pekik “Ewako” bersahut-sahutan membakar atmosfer Aula Utama Universitas Papua (Unipa) pada Jumat (26/6/2026) malam. Ratusan masyarakat diaspora Bumi Sawerigading yang memadati tribun penonton langsung berdiri dan bersorak histeris sesaat setelah tim Paduan Suara utusan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menyelesaikan penampilan puncaknya. Mereka sukses mencuri perhatian dalam kompetisi sengit kategori Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) pada ajang bergengsi Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026.

Membawa energi penuh dengan nomor undian 28, kelompok vokal yang diperkuat oleh 37 penyanyi berbakat beserta konduktor ini langsung menyita perhatian lewat visual yang megah. Mereka mengenakan seragam bernuansa merah darah yang dipadukan dengan tenunan ukiran khas Toraja berwarna kuning emas yang elegan. Representasi tangguh dari Kabupaten Toraja Utara ini tampil prima menghadirkan performa kelas atas demi memikat panel juri ahli yang diisi oleh para maestro musik gerejawi: Wenny Pantouw, Ken Steven, Karel M. Siahaya, Agastya R Listia, dan Wahono Hadi.

BACA JUGA:  Harga Tabung Gas 3 Kg Tembus Rp35 Ribu di Sesean Torut

Di bawah arahan dual dirigen bertangan dingin, Hartugus Sandalinggi dan Junita Eunike Lebang, delegasi Sulsel menyuguhkan harmonisasi vokal yang luar biasa impresif. Pembagian suara (satb) terdengar sangat solid, jernih, dan dinamis, mengalun indah memenuhi setiap sudut ruang akustik aula. Tidak hanya unggul dari segi teknik vokal berdurasi sekitar 12-15 menit tersebut, mereka juga memamerkan koreografi tubuh yang begitu sinkron dan ekspresif, membuat aksi panggung malam itu terasa hidup, teatrikal, dan sangat spektakuler.

Tiga komposisi lagu lintas zaman sukses dieksplorasi dengan tingkat kesulitan tinggi. Performa diawali dengan lagu wajib “Pujian Setiap Waktu” karya Rangga Aristo Kulas yang penuh khidmat. Disusul lagu pilihan terikat gubahan Ondi Yohan Tambunan berjudul “MemujiMu Pada S’gala Waktuku” yang sarat kedalaman emosi. Sebagai pemungkas, mereka membawakan lagu bebas “Jubilate Deo” mahakarya Dan Forrest—sebuah komposisi megah yang mengekspresikan pesan universal dari teks Mazmur 100 klasik: *”Bersukacitalah di dalam Tuhan, hal segala negeri”*.

Begitu melodi terakhir usai dan para duta suara bentukan LPPD Kabupaten Toraja Utara ini melangkah turun panggung, Aula Utama Unipa langsung bergemuruh hebat oleh tepuk tangan berdiri (*standing ovation*). Pekikan “Sulsel Ewako” menggema kuat, menciptakan gelombang keharuan dan rasa bangga yang luar biasa. Bagi masyarakat keturunan Sulawesi Selatan yang kini menetap di tanah perantauan Papua Barat, penampilan malam itu bukan sekadar kompetisi, melainkan simbol identitas dan pengobat rindu kampung halaman yang sangat emosional.