News  

Langkah Bersama Mengembalikan Pohon Kehidupan: Warga Kanreapia Jemput Piala Kalpataru

Suasana penjemputan sederhana namun penuh makna. Anak-anak berlari di antara barisan, membawa bunga dan daunan; orang tua menyeka keringat, saling berpegangan; wanita-wanita desa menyusun buah tangan kecil sebagai tanda syukur.

Ketika piala melintasi jalan desa, ada desiran haru yang tak terdengar, namun terasa di tiap dada sebuah pengakuan bahwa usaha kolektif tak pernah sia-sia.

Dalam pidatonya, Jamal kembali menegaskan rasa terima kasihnya kepada seluruh warga yang “telah meluangkan waktu” menjemput Kalpataru.

Prestasi ini, kata dia, adalah cermin dari kerja keras yang tidak sekadar teknis, tetapi juga bernilai sosial dan budaya. Kerja itu mengikat generasi tua dan muda, menjadikan lingkungan sebagai guru dan kebersamaan sebagai kitab suci yang terus dibaca.

Kisah Kanreapia menunjukkan bahwa penghargaan lingkungan bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil pembangunan moral kolektif.

Di antara upaya teknis dan administratif, yang paling menentukan adalah benang tahan lama: kebersamaan.

Ketika warga sanggup berjalan bersama mengangkat sampah, menanam pohon, juga menjaga warisan kearifan lokal maka piala Kalpataru hanyalah pengakuan eksternal dari sesuatu yang lebih besar: mata air gotong royong yang tak pernah kering.

BACA JUGA:  Rumah Zakat dan Kelurahan Rappokalling Bersinergi Atasi Stunting Melalui Pemberian Makanan Tambahan

Malam itu, piala berpijar di balai desa sebelum akhirnya disimpan, namun gema penjemputan masih tinggal dalam nyanyian ibu-ibu, dalam harapan anak-anak, dan dalam bisik pepohonan yang tampak lebih tenang.

Kanreapia menerima penghargaan bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai pengingat, bahwa menjaga alam adalah panggilan yang harus terus dijawab bersama, satu langkah, satu hari, satu pohon pada suatu waktu.