Lima Tahun Berjuang Akhirnya di Tarang Ati

Prosesi Tarang Ati malam ini sederhana, namun penuh makna. Biasanya, tradisi ini dilakukan dengan menyuapi santri oleh guru ngajinya, sebagai bentuk simbolis “pindah jenjang” dalam bacaan Al-Qur’an. Namun di K-Apel, ada sentuhan budaya dan spiritual yang lebih dalam. Ibu Herawati disuapi oleh suaminya sendiri, Dg Sese, bukan hanya sebagai bentuk cinta dan dukungan, tetapi menyiratkan makna yang lebih luhur, bahwa ridho suami terhadap istri adalah pintu ridho Allah. Dalam satu suapan, terselip doa dan harapan, agar ibu Herawati tidak hanya makin fasih membaca, tapi juga makin dekat dengan cahaya hidayah-Nya.

Di hadapan ibu-ibu, di hadapan saya sebagai pengajarnya, dan di hadapan diinding rumah dibawa langit rumah yang mencatat proses panjang yang dilalui ibu Herawati, sang suami, Dg Sese, dengan penuh kasih menyuapkan bacaan pertama itu. “Gula merah dicampur kelapa” penghantar ridho suami. Sebuah simbolisasi akan pentingnya ridho suami dalam perjalanan istri, sebagaimana dalam sabda Nabi SAW: “Jika seorang istri meninggal dalam keadaan suaminya ridho kepadanya, maka ia masuk surga.”

BACA JUGA:  K-Apel Terima Kunjungan Tim Supervisor DS COMMUNITY Telkomsel PT SARAH CELL SULAWESI

Tarang Ati (tajam hati). Ia adalah ritual sederhana namun penuh makna. Bagi Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Tarang Ati bukan sekadar selebrasi, tetapi pengingat bahwa belajar itu bukan soal usia, tapi soal keberanian hati. Tarang Ati bukan semata acara, ia adalah cermin budaya. Ia mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk diketahui, tapi untuk dimaknai.

“Tarang” berarti “tajam”, “Ati” berarti “hati”, bahwa, agar siapa pun yang mengaji, hatinya tajam dalam menangkap pesan-pesan langit. Juga. Bukan hanya tentang lancar membaca, tapi tentang bagaimana hati dapat menyerap nilai-nilai dari setiap lafaz yang dibaca. Budaya ini dahulu sangat lekat di tanah Makassar. Namun, sayangnya, budaya ini nyaris punah. Berdasarkan keterangan dari sejumlah orang tua yang saya tempati bertanya langsung terkait budaya “Tarang Ati” Bahwa dulu, di banyak rumah mengaji di Makassar, anak-anak yang naik dari Iqra’ ke Qur’an besar akan diarak dengan bangga. Kini, nyaris tidak ada. Alhamdulillah… K-Apel, dalam lima tahun terakhir, ruh itu coba dihidupkan kembali lewat para ibu yang tidak pernah malu untuk belajar, yang menjadikan waktu sebagai teman, bukan lawan.

BACA JUGA:  Founder K-apel Silaturahmi dengan Dekan FEBI UIN Alauddin Makassar

Tarang Ati merupakan simbol semangat. Ia bukan akhir, tapi awal dari perjalanan yang lebih dalam perjalanan mengaji yang menajamkan hati, menyentuh relung jiwa, dan merintis jalan menuju cahaya. Kata Wendell Pierce, “Peran budaya adalah bentuk yang melaluinya kita sebagai masyarakat merefleksikan siapa kita, di mana kita pernah berada, dan di mana kita berharap.” Maka Tarang Ati adalah refleksi itu, siapa kita dalam cinta kepada ilmu, bagaimana kita pernah jauh dari Qur’an, dan bagaimana kita ingin dekat lagi dengan-Nya.

Dan Dg Sese, dalam lirih doa dan harap saat menyuapi istrinya, mengucap pelan: “Saya ingin Herawati Istri saya lebih giat lagi hadir dalam halaqah mengaji, biar cepat pintar seperti ibu-ibu lain”. Harapan yang lahir dari cinta dan ketulusan, karena dalam setiap proses belajar, yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita bertahan.

Di sana, cinta dan iman saling bersalaman, dan kita tahu, bahwa perjuangan ibu Herawati tidak sia-sia. Sebab di balik setiap huruf yang ia baca, ada lima tahun tantangan, sabar, dan cinta yang mengakar. Tarang Ati bukan hanya tajam hati ia adalah tajamnya cinta.

BACA JUGA:  Founder K-Apel Temui Rektor dan Direktur Pascasarjana Unpacti Makassar, Untuk Apa?

Maka Tarang Ati menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa belajar itu tidak mengenal waktu, cinta itu bisa hadir dalam suapan kecil, dan budaya bisa tetap hidup selama ada yang bersedia menyalakan lentera harapan dalam lorong-lorong kecil Makassar.