Karya: Rusdin Tompo Delapan purnama kisahmu gelap Sebelum layar bioskop disingkap Alur ceritanya di Cirebon bagai dingin mengendap Namun terasa ada yang tak sedap Begitu kesaksian terdengar gagap Kesangsian menggedor-gedor…
Aku Ingin Seperti Hangat Kopi
Karya: Rusdin Tompo Kopi tak hirau Apakah ia diminum atau dinikmati Apakah ia direguk atau diteguk Semua debat kusir itu sudah teraduk jadi aroma Terekam kental pekat dalam hitamnya Hingga…
LELAKI DENGAN WAJAH PELANGI : Jenry Pasassan
Karya: Rusdin Tompo wajah dengan lukisan serupa pelangi kutemui suatu senja seusai ia menangkar langit biru jadi kolam impian terasa betul ia tekun memetik cahaya yang jatuh ia pindahkan ke…
GELAS TANPA KOPI: Maysir Yulanwar
Karya: Rusdin Tompo gelas di meja dingin sendiri tak ada kopi hangat dituang hanya ada bayangnya dan sendok yang masih menelungkup rapi tak ada lelaki yang biasa hadir mengakrabi padahal…
Sebuah Esai: Ditemukan Selera Sastra Generasi Milenial di Sulsel
NusantaraInsight, Makassar — Untuk menemukan selera sastra Generasi Milenial di Sulawesi Selatan secara objektif tentulah tidak mudah, sebab harus ada penelitian atau minimal survei. Nah, untuk itu, tulisan ini hadir…
ORANGORANG NEGERI NILAKANDI
Akmal Nasery Basral Orangorang berbaris di depan kedai nyaman gemerlap, tak sabar menyesap secangkir kopi impor yang harganya bisa lebih mahal dari satu gram emas mengkilap. Mereka bilang surga terasa…
SELLENG RINDU
Oleh: Hendri Tamrin Lakkase’ Makassar, Oktober 2013 Cinta dan perpisahan ibarat sebuah sesak yang wajib menjadi tamu, entah berapa lama sesak itu menjadi sepi yang selalu menari…
Seorang Jejaka yang Dicemburui Sungai: Emmeril Kahn Mumtadz
Karya: Rusdin Tompo di sungai Jeneberang pikiranku sungsang mendengar seorang ibu mengabarkan kepulangan ia tak lagi punya pilihan selain kehilangan diksi paling ganjil yang tetiba mengalir dalam keheningan dari Aare…
MENGGODAMU DENGAN PUISI
MENGGODAMU DENGAN PUISI Karya: Rusdin Tompo dalam dera hujan kau berkendara terus berjalan meski basah dengan pikiran resah apakah akan terus memilih jalan puisi atau berpuasa dari pilah pilih diksi…
MENTARI TERAKHIR
MENTARI TERAKHIR Senja temaram kian pudar, Jingga pun enggan tersenyum, Semerawut kalbu berbenah rasa, Luka pun diam tak berjiwa, Sekelebat dia tiba, Berlalu tanpa rasa, Tanpa prasangka rasa, Tinggalkan pilu…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
