Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (1): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Bocah asal Makassar
Rekaman CCTV pengungkap drama penculikan Bilqis. (Foto: Istimewa).

“Keesokan hari (3 November 2025), kita maksimalkan pelacakan. Di CCTV tergambar ada seorang perempuan membawa seorang anak dan berjalan dengan dua anak lainnya,” ungkap Doktor Ilmu Hukum lulusan Universitas Hasanuddin tahun 2025 ini.

Pada waktu bersamaan, keluarga Bilqis pun kembali melakukan pencarian dengan bantuan beberapa warga sekitar.

Setelah mendapat petunjuk penting dari rekaman CCTV milik salah satu kafe di sekitar taman, Dimas kemudian yakin putrinya dibawa oleh seseorang. Dalam rekaman itu, terlihat seorang perempuan menggandeng tangan Bilqis keluar dari area taman. Rekaman CCTV ini pun sampai ke tangan polisi.

Aparat kepolisian menyimak rekaman CCTV dengan jarak hingga 4 km dari titik awal. CCTV tersebut menuntun tim Polrestabes Makassar ke sebuah lorong.

Jadi, tim memanfaatkan semua kamera CCTV sepanjang jalan yang dilewati perempuan — yang kemudian diketahui bernama SY (30) — berjalan membawa Bilqis. Kamera CCTV itu terpasang di kiri kanan jalan yang dilalui perempuan yang sudah pisah dengan suaminya itu.

“Terakhir di sebuah lorong sana, Jl. Sungai Saddang Makassar. Tim tiba pada satu lorong bersamaan dengan tidak ada rekaman CCTV,” kenang bungsu dari enam bersaudara ini.

BACA JUGA:  Kecam Veto AS, Palestina Serukan PBB Akhiri Genosida di Gaza

Lantaran panduan CCTV tidak tersedia, Nasrullah bersama timnya melakukan pelacakan manual. Mengumpulkan informasi dari warga setempat dengan memperlihatkan gambar rekaman CCTV yang sudah di tangan tim Kepolisian. Warga pun mengenali si perempuan dalam rekaman CCTV. Mereka dengan lugu menyebut nama perempuan tersebut berikut alamatnya.

Pelaku SY sebenarnya mengontrak rumah di Jl. Kelapa III. Hanya saja, tempat kosnya banyak. Informasi yang diperoleh Dimas, ada empat tempat kosnya.

Terakhir, ketika mengurus buku nikah di Pengadilan Agama, Dimas bertemu dengan mantan ketua RT Kelapa III yang menyebutkan, pernah mendengar teriakan anak kecil pada malam hari 3 November 2025. Ibu kosnya hanya melihat uang saja, sehingga mampu meredam setiap ada masalah yang terjadi. Ada orang datang mau mengekos, bayar, sudah langsung diterima.

Tim Kepolisian tidak langsung ke sasaran. Tapi menunggu SY kembali dari mengantar anaknya ke sekolah, tidak jauh dari tempat kontrakannya. Kalender menunjuk, Senin 3 November 2025.

Hari masih pagi. Saat kembali ke rumahnya, SY tidak menyangka sudah ada tim Kepolisian — yang berpakaian preman — menunggu.

BACA JUGA:  PBB "Warning" Akan Terjadi Kelaparan di Gaza Utara, Anak-anak Terancam "Wasting"

“Akhirnya, kita amankan. SY dibawa ke Posko Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) di Polsek Rappocini Jl. Sultan Alauddin Makassar,” sebut Nasrullah.

Dari pemberitaan media terungkap, kalau SY pernah menjual 3 anaknya sendiri kepada orang yang tidak dikenal di Makassar.

Sedangkan kedua anaknya yang tampak bersama Bilqis di CCTV, kini dititip di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan & Anak (UPTD PPA) Makassar.

Dari hasil interogasi yang dilakukan tim, SY mengakui bocah tersebut sudah dijemput orang dari Jakarta Senin (3 November 2025) malam. Bilqis dilepas ke perempuan yang ternyata berasal dari Sukoharjo banderol Rp 3 juta melalui komunikasi media sosial facebook.

Bahkan, calon pembeli yang mengaku dari Jakarta mentransfer uang muka Rp 500.000.

SY berusaha mengalihkan perhatian tim Kepolisian ke orang lain. Namun, pihak Kepolisian tidak percaya. Setelah diperiksa gawai (telepon selular) miliknya, ditemukan ada komunikasi dan jejak digitalnya dengan seseorang dari sana, Sukoharjo, Jawa Tengah. (bersambung)