Catatan Manajemen : Pentingnya Pertumbuhan Ekonomi

Catatan manejemen
Lukisan Mantra Ardhana (foto: Aks)

ICOR adalah parameter yang menggambarkan besaran tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan kata lain semakin tinggi skor ICOR, artinya investasi semakin tak efisien.

Pertumbuhan ekonomi 8% di era Soeharto, kata Airlangga, bisa tercapai karena ICOR berada di level 4. Sedangkan saat ini ICOR berada di level 6 dengan investasi 32% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kalau ICOR-nya kembali kita bisa tekan ke 4, maka 32% divided by 4 exactly 8%,” katanya.

*Beberapa Pendapat*

*Pertama* , Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menyoroti _Purchasing Manager’s Index_ (PMI) manufaktur Indonesia yang terus menurun. Dengan kondisi ini, ia pun mempertanyakan apakah target pertumbuhan ekonomi 8% bisa dicapai.

“PMI sektor tersebar di dalam kue ekonomi ini terus menurun dan jatuh di bawah 50%. Dengan sektor industri yang diabaikan tanpa kebijakan berarti seperti ini, apakah layak kita berharap tumbuh 8%?” kata Didik dalam keterangan tertulis, Kamis (26/12/2024), sebagaimana dikutif detikFinance: Kamis, 26 Des 2024 13.45 WIB.

BACA JUGA:  Kadin Bali Gelar Pertemuan Bersama Pengusaha Australia dan Dosen Universitas Mahasaraswati

Sektor industri dinilai tumbuh rendah di mana dalam beberapa tahun hanya sekitar 3-4%. Hal ini dinilai menunjukkan kinerja yang tidak memadai untuk mencapai pertumbuhan di atas 5%, apalagi 7% seperti target era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan 8% seperti target Presiden Prabowo Subianto.

“Jika industri tumbuh rendah seperti ini, maka lupakan target yang tinggi tersebut. Selama pemerintahan Jokowi sektor ini diabaikan sehingga target pertumbuhan 7% sangat meleset,” ucapnya.

Didik menyebut sektor industri telah terjebak ke dalam proses deindustrialisasi dini sehingga jebakan ini harus diterobos dengan reindustrialisasi berbasis sumber daya alam Indonesia yang kaya, bersaing dan memenangkan pasar internasinal yang luas dan otomatis berjaya di pasar domestik.

Menurut Didik, yang harus dijalankan dan telah terbukti sukses di negara industri disebut _resouce-based industry, led-export industry_ atau _outward looking industry_ . Strategi industri ini dinilai pernah dijalankan pemerintah Indonesia pada tahun 1980-an dan awal 1990-an dengan hasil yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 7-8%.

“Tanpa perubahan strategi seperti ini maka mustahil mencapai target pertumbuhan 8%. Strategi industri bersaing di pasa internasional ini menjadi kunci berhasil atau tidaknya target pertumbuhan tersebut,” ucapnya.

BACA JUGA:  New Kawasaki Eliminator Hadir untuk Bersaing di Segmen Moge

Di liuar permasalahan sektoral, Didik juga menyoroti utang pemerintah dari tahun ke tahun yang terus membengkak. Dari tahun 2010-2024 rasio utang Indonesia terhadap PDB terus naik dari 26% menjadi 38,55%, dengan total utang sebesar Rp 8.473,90 triliun per September 2024.