Catatan dari Rapat ALFI: Ketika Transparansi Bukan Sekadar Wacana.

Dampaknya terlihat nyata. Iuran anggota menunjukkan tren yang semakin baik. Ini bukan soal nominal, tetapi soal psikologi kepercayaan. Anggota tidak pernah keberatan membayar ketika mereka tahu ke mana uang itu pergi. Transparansi, pada akhirnya, selalu berbanding lurus dengan partisipasi.

Kehadiran para pembina serta mantan Ketua Umum ALFI, Bapak Ippho, menambah bobot rapat ini. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang menghargai sejarah tanpa terjebak di dalamnya.

Forum kemudian dilanjutkan dengan sesi sharing. Anggota bertanya, mengkritik, dan memberi masukan tanpa rasa sungkan. Tidak ada kegaduhan, karena transparansi sejak awal telah menurunkan kecurigaan. Ketika proses dibuka, konflik kehilangan panggungnya.

Di tengah krisis kepercayaan yang melanda banyak organisasi hari ini, rapat ALFI memberi satu pelajaran penting: organisasi tidak hancur karena terlalu jujur, tetapi karena terlalu lama menyembunyikan kebenaran.

Rapat ditutup tanpa tepuk tangan berlebihan. Tidak ada deklarasi heroik.l, walaupun banyak interupsi ringan penuh canda. Namun justru di situlah kekuatannya. Karena organisasi yang serius membangun masa depan tidak sibuk mengesankan, melainkan konsisten membuktikan.

BACA JUGA:  ByU Telkomsel (PT Sarah Cell Sulawesi) Dukung Pengembangan Literasi Lorong

Dan pada akhirnya, hanya organisasi seperti itulah yang akan bertahan lama.

Salam

Asrul Sani Abu | Pengurus ALFI.