“Tentu saja untuk menghasilkan buku muatan lokal bahasa daerah yang representatif kami harus melibatkan banyak pemerhati dan praktisi pendidikan dari daerah terkait, seperti Prof Kembong dan Bu Ilma,” ungkap Manejemen Yudhistira dalam rilis tertulisnya.
“Kami juga menyetarakan buku muatan lokal bahasa daerah dengan buku-buku teks nasional kami lainnya, tidak menganaktirikan buku muatan lokal, artinya kualitas (fisik dan materi) serta perangkat buku setara dengan buku teks nasional dengan fitur-fitur seperti:
1. Full color, kaya ilustrasi yang menarik
Sesuai tingkat keterbacaan siswa
2. Model pembelajaran yang menggunakan kegiatan dan/atau proyek sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
3. Kegiatan berbahasa mendengar (menyimak), membaca, berbicara, dan menulis
4. Tugas HOTS (higher order thinking skill)
5. Kegiatan belajar dijiwai Profil Pelajar Pancasila
6. Model soal latihan yang beragam, mencakup PG, PGK, Menjodohkan, Isian dan Uraian
7. Dilengkapi pengayaan pembelajaran (konten digital) dalam Kode QR, perangkat pembelajaran ATP, Modul, dan kunci jawaban
8. Dilengkapi Y-Book (Yudhistira Book) sebagai aplikasi yang sangat membantu guru bahasa daerah dalam pembelajaran di kelas
Betapa pentingnya buku ini bagi kami, sehingga peluncuran buku harus juga melibatkan pemerhati, praktisi, akademisi dan pelaku pendidikan di kota Makassar, dalam acara Sosialisasi Buku Bahasa dan Budaya Makassar, di Gedung Phinisi, Universitas Negeri Makassar, dihadiri hampir 450 peserta yang sangat antusias.
“Kami sangat menghargai dan mengapresiasi bantuan Universitas Negeri Makassar dan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar sehingga acara berjalan sukses. Demi melestarikan bahasa daerah agar tidak punah dan akan selalu dituturkan generasi-generasi penerus, selamanya. AMIN,” pungkasnya.












