Saya sudah menduga saat kasus ini viral di media, sang Menteri akan mendapat masalah. Apalagi ketika dia menjelaskan sudah melapor kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Saat dicecar KompasTV mengenai komentar Presiden, Satryo terkesan sulit mencari kalimat untuk menjelaskannya. Saya kira, Presiden menyimak pemberitaan media TV, khususnya KompasTV yang “independen dan terpercaya”.
Terus terang, ketika namanya diumumkan sebagai Menteri Pendidikan Tinggi Sains Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro saya anggap sosok yang tepat menduduki posisi itu. Soalnya, dia pernah menjabat Dirjen Pendidikan Tinggi pada periode 1999 hingga 2007, ketika Yahya Muhaimin (1999), Abdul Malik Fajar (2001), dan Bambang Sudibyo (2004) menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pria kelahiran Delf, Belanda, 5 Januari 1956 ini adalah putra dari Soemantri Brodjonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan masa tugas terpendek 28 Maret s.d. 18 Desember 1973, karena meninggal dunia, kemudian digantikan Sjarif Thayeb yang menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahuj 1974 hingga 1978.
Menanggapi pemberhentian Satryo, Nina Herlina mengomentari akan mengikuti Keputusan Presiden Prabowo Subianto. Dia berharap pergantian kepemimpinan di Kemendiktisaintek dapat membawa Pendidikan tinggi lebih baik.
“Semoga pendidikan tinggi ke depan lebih baik lagi, Aamin,” ujar Neni Herlina Rabu (19/2/2025) seperti diberitakan Tribunnews.com.
Pemberhentian Satryo tentu saja karena tidak mampu mengendalikan diri di tengah terpaan media sosial yang sangat “kejam”. Seseorang tidak bisa mengelak ketika viral suara-suara yang bisa bercerita secara otentik tentang perlakuan seseorang. Sialnya, seseorang yang menjadi pelaku sama sekali tidak menyadari kalau “pesakitan”-nya itu kreatif merekam peristiwa yang terjadi. Saat ini, kita bagaikan hidup di tengah intaian media sosial yang siap menyergap. Laksana harimau yang menyelinap dan bergerak pelan dan senyap, kemudian menyergap mangsanya. (*).












