Di Balik Peluncuran Edisi Revisi Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur” (7) Amiruddin, Pemimpin yang Penuh Determinasi

A.amiruddin
Buku A.Amiruddin Nahkoda dari Timur dengan latar penulis Dahlan Abubakar

Pak Amiruddin juga adalah sosok pemimpin yang memiliki kemampuan culture building yang prima. Gagasan-gagasan besarnya untuk mewujudkan Unhas sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berwibawa di tanah air, diikuti dengan konsisten melalui langkah-langkah nyata dalam membangun academic culture yang kondusif bagi kemajuan dan pembangunan.

Pak Amiruddin ‘’tidak puas’’ dengan format organisasi Unhas yang dipimpinnya, yang lebih merupakan ‘’multi’’ versitas ketimbangan sebuah ‘’uni’’ versitas. Tembok-tembok fakultas, yang menempatkan setiap fakultas tidak lebih dari ‘’kerajaan-kerajaan’’ kecil, bagi Pak Amiruddin dianggap tidak dapat diandalkan untuk mengembangkan sebuah universitas yang memerlukan pengerahan semua sumber daya universitas secara berhasil guna maksimal. Karena itu, budaya lama yang terkotak-kotak dalam fakultas dan jurusan harus diubah sedemikian rupa sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimobilisasi dengan lebih convergent dalam mencapai sasaran universitas.

Sistem organisasi matrix kemudian dikembangkan yang berimplikasi pada penggabungan beberapa fakultas menjadi sebuah fakultas baru dengan tugas mengelola sumberdaya. Pada sisi yang lain, disusun berbagai program studi yang dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya yang bersifat lintas fakultas. Semua warga universitas harus mengubah culture mereka yang konvensional, menuju culture yang baru yang lebih berorientasi program.

BACA JUGA:  Putri Dakka akan Melaporkan Kasus Penipuan Arisan dan Penggelapan Mobil ke Polisi

Dalam konteks ini, saya melihat Pak Amiruddin sebagai sosok pemimpin yang dikenal di dalam terminology teori kepemimpinan sebagai culture-builder.

Tentu saja Pak Amiruddin dalam melaksanakan konsep-konsep strategiknya tidak melewati jalan yang mulus. Resistensi dan ketidaksetujuan atas gagasan-gagasanya muncul dari beberapa kalangan. Tetapi sekali lagi, Pak Amiruddin bertekad melaksanakan program tersebut dengan penuh determinasi.

Menurut hemat saya, semangat ke-Unhas-an dan kerjasama lintas fakultas, maupun mobilisasi sumber daya universitas yang makin terintegrasi sekarang ini, tidak terlepas dari sosok Pak Amiruddin sebagai culture-builder itu, Sosok Pak Amiruddin seperti itu, kembali beliau laksanakan ketika mendapat kesempatan menjadi Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 1983.

Sebagai Gubernur, beliau kembali mencanangkan ‘’perubahan pola pikir dan perilaku’’ pejabat dan masyarakat sebagai salah satu dari tiga program yang dicanangkannya dalam memimpin Sulawesi Selatan.

Lewat program pembangunan yang dijalankannya sebagai Gubernur Sulawesi Selatan, Pak Amiruddin dikenang oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai seorang pemimpin yang berhasil meletakkan dasar yang kokoh bagi pembangunan daerah ini selanjutnya.

BACA JUGA:  Piala AFF 2024: Timnas Indonesia Tertahan di Solo

Sebagai pribadi, saya (Basri Hasanuddin) belajar banyak dari Pak Amiruddin. Terutama, hal-hal yang bersangkut paut dengan kepemimpinan. Ketegasan, konsistensi, optimalisasi kinerja dalam berkiprah di suatu organisasi atau lembaga adalah pelajaran dan pengalaman penting yang saya ‘’serap’’ dari interaksi saya dengan beliau. Kalau kemudian pada tanggal 20 Mei 1989, saya dilantik menjadi Rektor Universitas Hasanuddin periode 1989-1993 dan berlanjut dengan periode berikutnya (1993-1997) itu tidak terlepas dari pelajaran berharga yang saya ungkap dari guru saya tentang kepemimpinan Prof. Dr. H. A. Amiruddin. (Basri Hasanuddin adalah Rektor Unhas 1989-1993 & 1993-1997, Menko Kesra dan Pengentasan Kemiskinan 1999-2000, Duta Besar RI untuk Iran 2003-2006, (Bersambung, MDA).