Prof. Muh. Hamdar Arraiyyah: Syekh Yusuf Pahlawan Dua Bangsa

Makassar, NusantaraInsight — “Syekh Yusuf Taj Al-Khalwati Al-Makassari merupakan salah satu ulama terkemuka di Nusantara pada abad ke-17,” jelas Prof. Dr. H. Muhammad Hamdar Arraiyyah, M.Ag.

Peneliti pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengatakan, ulama besar lainnya yang seera dengan Syekh Yusuf, yakni Syekh Abdul Rauf Singkel, wafat 1693, yang punya sebutan populer Syiah Kuala. Sebutan ini digunakan sebagai nama universitas negeri di Banda Aceh, yakni Universitas Syiah Kuala.

Nama lain, yang sezaman dengan Syekh Yusuf, adalah Syekh Nuru-d Din ar-Raniri (1658), ulama asal India, penasihat agung di Kesultanan Aceh. Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniri Banda Aceh menjadikan namanya sebagai nama institusinya.

Prof. Muh. Hamdar Arraiyyah berbicara dalam kegiatan peluncuran buku antologi puisi berjudul “Spirituality and Liberation A Poetry Anthology for the 400th Anniversary of Shaykh Yusuf
Al-Makassari, di Hotel Karebosi Premier, Sabtu, 19 September 2026. Buku yang disusun oleh Muhammad Hamdar Arraiyyah, et al., itu diterbitkan untuk mengenang 400 tahun perjuangan, spiritualitas, serta kontribusi sosial ulama besar sekaligus Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan tersebut.

BACA JUGA:  Jadwal Lengkap Liga 1 2024/2025 Pekan Ini

Antologi puisi ini diterbitkan oleh Komisi Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar. Penulisan buku ini diinisiasi oleh Prof. HM Hamdar Arraiyyah, yang juga merupakan Ketua Komisi Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan MUI Kota Makassar. Para penulis terdiri dari akademisi, jurnalis, penggiat literasi, seniman, penyair, dan budayawan. Mereka adalah Andi Marliah, Anil Hukma, Asia Ramli Prapanca, Aspar Paturusi, Ishakim, Kembong Daeng, Muhammad Amir Jaya, Muhammad Hamdar Arraiyyah, Muh. Hamzah Zaidin, Muliaty Mastura Yusuf, Rusdin Tompo, Syahril Ramli Rani, dan Yudhistira Sukatanya.

Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 3 Juli 1626. Tahun kelahirannya dicatat di Lontarak Bilang Raja Gowa dan Tallo. Syekh Yusuf adalah bagian dari Istana Raja Gowa-Tallo. Beliau wafat di Cape Town, Afrika Selatan, pada tanggal 23 Mei 1699.

“Statusnya, kala itu, sebagai tahanan politik VOC Belanda selama 15 tahun hingga akhir hayatnya. Beliau 10 tahun di Ceylon, dan 5 tahun di Cape Town,” papar Prof. HM Hamdar Arraiyyah.

BACA JUGA:  KH As'ad Humam Guru Ngaji Asal Indonesia jadi Pahlawan Dunia

Dalam pemaparannya, Prof. Hamdar Arraiyyah menampilkan beberapa foto, seperti foto Makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town (2018), foto Monumen di Halaman Makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town (2018), foto Masjid Nurul Latief di Kampung Macassar, Cape Town (2018), dan foto Mausoleum Syekh Yusuf di Lakiung, Gowa.

Ditampilkan pula foto yang memperlihatkan aktivitas zikir bersama di Cape Town (2018), dan foto Masjid Al-Quds di Cape Town (2018)

Disampaikan bahwa ingatan, penghargaan, dan penghormatan terhadap ulama besar itu, di Indonesia, bisa dilihat dari berbagai gelaran acara yang diadakan untuk memperingati 400 tahun Syekh Yusuf. Misalnya, peringatan ulang tahun Syeikh Yusuf di Banten oleh Kementerian Kebudayaan RI, dalam bentuk seminar. Lalu kegiatan di kampus Universitas Islam Makassar Al-Gazali, dalam bentuk simposium. Kemudian kegiatan di UIN Alauddin, Makassar, berupa bedah buku.

Selanjutnya, Peringatan Haul Syekh Yusuf di Lakiung, Gowa, BRIN juga mengadakan webinar, begitupun dengan Kementerian Agama RI, juga mengadakan webinar.

Sementara itu, Symposium Syeikh Yusuf Al-Makassari and the Indian Ocean World, diselenggarakan di Universitas Syiah Kuala. Sedangkan MUI Kota Makassar mengadakan Launching Buku Antologi Puisi tentang Syekh Yusuf.