Makassar, NusantaraInsight — Kantor Penerbit de La Macca di Jl. Borong Raya No.75A, Makassar, menggelar pameran tunggal seni rupa dan diskusi bertema “PASAR: Transaksi dalam Gua Batu” karya Maestro Ishakim pada 1-4 Oktober 2026.
Kegiatan ini juga menampilkan acara diskusi yang menghadirkan narasumber Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A. (Ketua Departemen/Prodi Arkeologi Unhas) dengan moderator Yohanes Bebnediktus, S.S. dari Lontara Hijau Education Foundation. Diskusi dilaksanakan Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 15.30, sementara pameran berlangsung setiap hari pukul 08.00-17.30 WITA.
Seni Lukis Prasejarah Maros-Pangkep
Dalam pengantarnya, Dr. Yadi menyoroti kawasan gua prasejarah Maros-Pangkep yang secara administratif berada di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Nama kawasan ini mengacu pada keberadaan gua-gua prasejarah yang tersebar di gugusan karst membentang dari Maros hingga Pangkep.
Keberadaan gua-gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep telah dikenal sejak pertengahan abad ke-20 dan mulai mendapat pengakuan dunia setelah ditemukannya lukisan cadas pada Gua Prasejarah Pettae dan Petta Kere di Kabupaten Maros oleh para peneliti asing pada dekade 1930-an.
Jejak Sejarah dan Temuan Penting
Penelitian arkeologi prasejarah di Maros pertama kali dilakukan pada Juni 1895 oleh Sarasin bersaudara. Namun, keberadaan lukisan cadas baru diketahui pada 26 Februari 1950 ketika C.H.L. Heeren-Palm menemukan gambar pada dinding Gua Pattae berupa tujuh cap tangan negatif berwarna merah dan sebuah motif menyerupai bulan sabit.
Sehari kemudian, Heekeren menemukan lukisan lain yang diidentifikasi paleontolog D.A. Hooijer sebagai representasi babi rusa (Babyrousa), fauna endemik Sulawesi.
Berdasarkan data Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, hingga akhir 2024 teridentifikasi 743 gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep. Empat kawasan sebaran gua prasejarah telah ditetapkan sebagai geosite dalam kawasan Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark dengan kategori warisan budaya (cultural heritage).
Pengakuan Dunia
Kawasan gua prasejarah Maros-Pangkep semakin dikenal secara global setelah dipublikasikannya hasil penelitian di Leang Timpuseng, Maros, dalam jurnal Nature pada 2014. Penelitian tersebut menunjukkan lukisan cadas di Leang Timpuseng berusia sekurang-kurangnya 39.900 tahun, melampaui usia lukisan cap tangan di Gua El Castillo, Spanyol (sekitar 37.300 tahun).
Pada 2019, hasil penelitian di Leang Bulu Sipong 4, Pangkep, yang juga dipublikasikan dalam Nature, mengungkap keberadaan lukisan naratif adegan perburuan tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun.
Temuan penting berikutnya dipublikasikan dalam Science Advances pada 2021, yaitu lukisan figuratif babi Sulawesi (Sus celebensis) dari Leang Tedongnge, Pangkep, berumur sekitar 45.500 tahun, diakui sebagai salah satu lukisan gua figuratif tertua di dunia.
Penelitian terbaru di Leang Karampuang, Maros, menunjukkan keberadaan seni cadas naratif di Indonesia yang diperkirakan telah hadir sejak sekitar 51.200 tahun lalu, memperkuat posisi Sulawesi sebagai salah satu pusat perkembangan awal ekspresi simbolik dan seni figuratif manusia modern di dunia.












