Diskusi Pameran Tunggal Lukisan “Pasar” Maestro Ishakim, Yadi Mulyadi Paparkan Seni Lukis Prasejarah 

Dari kiri ke Kanan: moderator Yohanes Benediktus, Dr. Yadi Mulyadi dan Ishakim

Tantangan Penanggalan

Seni cadas merupakan tinggalan arkeologi yang sangat sulit ditentukan usianya secara pasti. Jika pigmen seni cadas berasal dari bahan organik (misalnya arang), usianya dapat ditentukan menggunakan metode penanggalan radiokarbon (¹⁴C). Namun, dalam banyak kasus seni cadas dibuat menggunakan pigmen tanah alami seperti oker (ochre) yang merupakan zat pewarna dari mineral batuan.

Oker merupakan bentuk hematit (bijih besi) yang kaya kandungan besi. Karena pigmen tersebut bersifat anorganik, maka tidak dapat ditentukan usianya secara langsung menggunakan metode penanggalan radiokarbon.

Keberadaan gua-gua prasejarah tersebut tidak hanya merepresentasikan jejak hunian dan aktivitas manusia masa lalu, tetapi juga merupakan objek cagar budaya yang memiliki nilai penting bagi sejarah perkembangan peradaban manusia. Oleh karena itu, keberadaannya perlu memperoleh perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan yang berkelanjutan sesuai prinsip pelestarian cagar budaya.

Komunikasi Lintas Zaman

“Di gua-gua Maros-Pangkep, manusia purba meninggalkan cap tangan, figur hewan, dan kisah tanpa kata. Mereka tidak hanya melukis, tetapi juga

berkomunikasi lintas zaman.” “Simbol-simbol ini bukan sekadar gambar di dinding batu. la adalah bukti bahwa sejak puluhan ribu tahun lalu manusia telah berusaha memahami dunianya, menyimpan ingatan, dan berbagi cerita. Seni bukan sekadar

BACA JUGA:  Lelaku dengan Visi Siri na Pacce

bagian dari kehidupan, melainkan esensi kemanusiaan itu sendiri.” “Kita bukan hanya pengunjung warisan ini, tetapi juga pewarisnya. Tugas kita adalah melindungi, memahami, dan melanjutkan cerita yang telah

diwariskan selama puluhan ribu tahun.” “Di balik setiap lukisan gua tersimpan pesan lintas zaman: bahwa mereka pernah ada, mereka memberi makna pada hidupnya, dan mereka berharap untuk dikenang.”