Kurator Achmad Fauzi Sebut Pameran “Tawar Menawar Ekspresi Visual” Ala Ishakim 

Makassar, NusantaraInsight — Seniman Ishakim menghadirkan 19 karya seni ekspresif dalam pameran bertajuk Tawar Menawar Ekspresi Visual. Pameran tersebut mengangkat tema pertukaran makna dalam kehidupan dengan menjadikan pasar sebagai simbol relasi, kuasa, ingatan, dan kemanusiaan.

Kurator pameran, Achmad Fauzi, mengatakan Ishakim memandang hidup sebagai proses pertukaran yang berlangsung tanpa akhir. Menurutnya, berkarya merupakan bentuk pilihan untuk menentukan hal-hal yang ingin ditampilkan, disampaikan, dan direnungkan bersama.

“Hidup adalah transaksi. Pasar menjadi pemantik karya,” kata Ishakim, sebagaimana disampaikan Achmad Fauzi dalam pidato pembukaan pameran, Kamis (1/10/2026) di La Macca Makassar.

Achmad menjelaskan, gagasan tentang pasar dalam karya Ishakim tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli. Pasar juga dimaknai sebagai ruang yang mempertemukan berbagai kepentingan, termasuk konsumsi, relasi sosial, serta nilai kemanusiaan.

Menurut dia, perluasan pasar hingga ke ruang digital membuat masyarakat harus lebih kritis terhadap pola konsumsi. Konsumsi yang tidak terkendali dinilai dapat merusak lingkungan, terutama ketika keuntungan ditempatkan sebagai satu-satunya tujuan.

BACA JUGA:  Pameran Lukisan dan Dialog Antargenerasi di Mataram

“Pameran ini bukan menghakimi, melainkan mengingatkan. Ketika untung menjadi satu-satunya tujuan, kita kehilangan kemanusiaan,” ujarnya.

Gunakan Limbah Marmer Leang-Leang

Dari 19 karya yang dipamerkan, delapan di antaranya menggunakan campuran bubuk limbah marmer yang berasal dari sekitar kawasan Gua Leang-Leang, Kabupaten Maros.

Penggunaan material tersebut menjadi bagian penting dalam karya Ishakim karena mempertemukan jejak masa lalu dengan ekspresi seni masa kini. Material yang berasal dari kawasan bersejarah itu diolah menjadi bagian dari lukisan dengan gaya ekspresif dan spontan.

Achmad menyebut karya-karya tersebut memiliki sejumlah karakter yang mengingatkan pada lukisan purba di dinding gua. Karakter itu terlihat melalui garis yang lugas, penggunaan warna yang berani, figur yang tidak meniru bentuk secara persis, serta komposisi yang terbuka.

“Garisnya lugas dan sederhana, seperti jejak tangan leluhur di dinding batu. Warnanya berani dan hidup, diambil dari apa yang disediakan alam; dulu di batu, kini di kertas,” katanya.

Ia menambahkan, figur dalam karya Ishakim tidak berusaha menyalin wujud secara detail. Figur tersebut justru menangkap gerak dan jiwa, sebagaimana lukisan purba yang menyederhanakan bentuk untuk menyampaikan makna yang lebih luas.

BACA JUGA:  AWALNYA MENGANTAR BINGKAI MALAH BERAKHIR DI KELAS MENULIS

Sementara itu, komposisi karya dibuat terbuka dan saling mengisi. Setiap elemen visual seolah membangun dialog yang terus berlanjut dan tidak pernah benar-benar selesai.

Hubungkan Masa Lalu dan Masa Kini

Pameran ini juga menempatkan karya seni sebagai jembatan antara warisan masa lalu dan tafsir masa kini. Jejak sejarah di kawasan Leang-Leang tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang selesai, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus hidup melalui karya baru.

“Batu menyimpan jejak masa lalu, lukisan menuliskan tafsir masa kini. Warisan bukanlah akhir, melainkan hidup kembali dalam setiap goresan baru,” ujar Achmad.