News  

BUTTA POREA HADIRI HUT KE-37 MAPALA STIEM BUNGAYA, DORONG KOLABORASI LINGKUNGAN DAN URBAN FARMING

Makassar, NusantaraInsight — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-37 Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STIEM Bungaya Makassar berlangsung semarak dengan menggelar Seminar Nasional Lingkungan Hidup 2026 di Kampus STIEM Bungaya, Jalan Mappaoddang, Makassar. Senin, 28 September 2026.

Seminar yang mengangkat isu lingkungan hidup tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan praktisi yang membahas berbagai persoalan lingkungan sekaligus langkah konkret yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan organisasi sosial.

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Makassar diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Makassar, Drs. Andi Irwan Bangsawan, M.Si menjadi Keynoote speak acara seminar tersebut. Turut hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, S.STP., M.M ikut memberikan sambutan dan pemaparan persoalan persampahan di kota Makassar.

Seminar dipandu oleh Dr. Muhammad Umar Data, S.E., M.M., dengan narasumber Dr. Hj. Maewah Yusuf, S.E., M.Si., Ak., CA. Pembahasan tidak hanya menyoroti persoalan lingkungan hidup secara umum, tetapi juga mengangkat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh STIEM Bungaya dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan.

BACA JUGA:  Sinergi Tanpa Batas: IKA SMANSA 82 Satukan Alumni dan Komunitas D2 Lewat Turnamen Domino

Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Butta Porea Indonesia turut memberikan paparan mengenai peran masyarakat dan lembaga sosial dalam mendukung program Pemerintah Kota Makassar, khususnya dalam bidang lingkungan hidup dan Urban Farming.

Ketua Yayasan Butta Porea Indonesia, Andi Pangerang Nur Akbar, S.STP., M.M., menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup hanya diselesaikan melalui kebijakan pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan lembaga sosial.

Menurutnya, kehadiran Yayasan Butta Porea Indonesia diarahkan untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut, khususnya melalui pengembangan Urban Farming yang terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan. Dan alasan kehadiran yayasan mengantispasi persoalan suplay bahan hasil pertanian dari daerah yang bisa terjadi mengalami persoalan kemacetan dari daerah jika terjadi suatu bencana. Makassar dapat memproduksi sendiri dengan kegiatan urban farming.

Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, Yayasan Butta Porea Indonesia telah menjalankan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan, termasuk pengembangan Urban Farming, pengelolaan sampah organik, budidaya maggot, produksi eco enzyme, serta berbagai kegiatan edukasi lingkungan.