Kepala LPTQ Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Raih Doktor di UIN Alauddin Makassar, Angkat Kurikulum ISMUBA

Makassar, NusantaraInsight — Kepala Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar Martono La Moane, meraih gelar doktor pada program studi dirasah Islamiyah konsentrasi pendidikan dan keguruaan di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Jl. H. M. Yasin Limpo Gowa, Sulsel, Senin (24/8/2026).

Gelar doktor tersebut diraih setelah Martono La Moane mempertahankan disertasinya berjudul “Implementasi Kurikulum Ismuba Bagi Pembentukan Karakter Santri di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar”.

Pembentukan karakter santri yang berakhlak mulia, mandiri, dan berwawasan luas membutuhkan pendekatan pendidikan yang holistik.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Dr. Martono La Moane melalui penelitian doktoralnya mengenai implementasi Kurikulum Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar.

Dalam penelitian kualitatif studi kasus yang dilakukannya, Dr. Martono menemukan bahwa keberhasilan pembentukan karakter santri tidak hanya bertumpu pada materi di dalam kelas, melainkan pada pengintegrasian yang kuat antara pembelajaran formal dan kehidupan di asrama.

“Kurikulum ISMUBA di Pesantren Darul Arqam Gombara dirancang secara integratif, berbasis nilai, dan kontekstual. Tiga komponen utamanya Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tidak sekadar menjadi mata pelajaran, tetapi diinternalisasikan ke dalam budaya dan perilaku sehari-hari santri,” ungkap Dr. Martono dihadapan penguji.

BACA JUGA:  Pengurus Baru IKA FH-UH Angkatan 87 Rencana Adakan Kegiatan Berkah Ramadhan

“Kurikulum yang efektif adalah kurikulum yang tidak hanya mengejar nilai kognitif atau hafalan semata, melainkan mengintegrasikan dimensi afektif dan psikomotorik secara seimbang,” tambahnya.

Penelitian ini mengungkapkan peran spesifik dari masing-masing komponen ISMUBA:

Al-Islam: Berperan vital dalam membentuk ketauhidan, kerapian ibadah, dan akhlakul karimah.

Kemuhammadiyahan: Menanamkan ideologi, kepemimpinan, jiwa kaderisasi, serta semangat ‘Islam Berkemajuan’ dan kepedulian sosial.

Bahasa Arab: Menjadi fondasi akademis untuk memperkuat penguasaan literatur dan sumber-sumber ajaran Islam.

Proses transformasi karakter tersebut berlangsung secara bertahap, mulai dari pemahaman konsep, pembiasaan rutin, hingga akhirnya menjadi karakter yang melekat.

“Lingkungan asrama berfungsi sebagai hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) yang memperkuat apa yang telah dipelajari santri di ruang kelas,” tuturnya.

Hasil riset ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang signifikan bagi dunia pendidikan Islam.