Makassar, NusantaraInsight — Kekayaan budaya Sulawesi Selatan—mulai dari seni ragam hias, arsitektur, tenunan khas, tarian, naskah Lontara, hingga falsafah hidup Siri’ na Pacce—merupakan warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Namun di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, muncul kekhawatiran mendalam: minat peserta didik terhadap budaya daerah semakin menurun. Banyak generasi muda lebih mengenal budaya populer luar negeri daripada kearifan lokal yang seharusnya menjadi identitas mereka sendiri.
Di lingkungan SMP Negeri 20 Makassar, upaya pengenalan budaya Sulawesi Selatan selama ini masih berjalan terpisah-pisah, belum terintegrasi secara menyeluruh dalam proses pembelajaran maupun penataan lingkungan sekolah. Kegiatan budaya seringkali hanya menjadi acara seremonial, belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Menyadari hal tersebut, SMP Negeri 20 Makassar bergerak untuk menjadikan pelestarian budaya bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan jiwa dan identitas utama sekolah.
Inovasi “Panrita 20”: Pelestarian Budaya Menjadi Jiwa Sekolah
Nama “Panrita 20” diambil dari istilah budaya Bugis-Makassar yang berarti orang yang ahli, berilmu, bijaksana, dan menjadi teladan—sosok yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan ketulusan hati. Angka “20” melambangkan identitas SMP Negeri 20 Makassar. Inovasi ini hadir sebagai upaya nyata pelestarian budaya melalui seni dan prakarya, dengan keterpaduan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan sekolah.
Pertama, identitas sekolah dirancang bermakna budaya. Logo sekolah akan dirancang memadukan unsur ornamen khas Sulawesi Selatan—seperti simbol Sulapan Appa, motif tenun, aksara Lontara, dan simbol kapal Phinisi—menjadi lambang kebanggaan setiap warga sekolah. Kedua, kurikulum disusun secara menyeluruh untuk memasukkan nilai-nilai budaya Sulsel ke dalam pembelajaran semua mata pelajaran, dengan penekanan utama pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya. Mulai dari matematika melalui ukiran tradisional, IPA melalui bahan pewarna alami, hingga bahasa melalui cerita rakyat. Ketiga, seluruh area sekolah ditata sebagai ruang budaya, dihiasi dengan ornamen, filosofi Bugis-Makassar beserta aksara Lontara, motif ragam hias Sulsel, serta karya seni bertema budaya Sulawesi Selatan—dari gerbang sekolah, lorong kelas, hingga ruang guru—sehingga setiap sudut sekolah menjadi ruang yang hidup dan mencerminkan kearifan lokal.
“Kami ingin setiap siswa yang melangkah di sekolah ini tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghirup budaya daerahnya. Kami ingin melahirkan ‘Panrita’—generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana dan berakar pada identitas leluhurnya.” ujar Hj. Asriah, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 20 Makassar saat diwawancarai Senin (14/7/2025)












