“Batas bahasaku adalah batas duniaku.” ~ Ludwig Wittgenstein
Makassar, NusantaraInsight — Diskusi buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday di Sunachi Claro Makassar, Sabtu, 18 Juli 2026.
Pada gilirannya sebagai narasumber, Prof. Dr. Mardi Armin, Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin Makassar, tidak sebatas mengulas sebuah buku. Prof. Mardi mengajak hadirin membaca kembali sejarah bahasa sebagai sejarah kemanusiaan itu sendiri.
Dengan perspektif filsafat yang tajam, Prof. Mardi menyampaikan bahwa Bung Maman sesungguhnya sedang menawarkan sebuah manifesto bahasa. Bukan manifesto yang mengobarkan revolusi politik, melainkan manifesto yang mengembalikan bahasa kepada martabatnya sebagai fondasi kesadaran, kebudayaan, dan peradaban.
Manifesto, dalam pengertian filosofis, bukan sebatas deklarasi gagasan. Manifesto adalah penegasan tentang cara memandang dunia. Maka ketika Bung Maman sapaan akrab dari Rahman Rumaday menulis tentang kata sebagai mantra, sesungguhnya ia sedang mengajukan tesis bahwa bahasa bukan hanya merepresentasikan realitas, melainkan turut melahirkan realitas itu sendiri.
Pandangan demikian memiliki jejak panjang dalam sejarah pemikiran manusia. Martin Heidegger menyebut bahasa sebagai “rumah keberadaan” Manusia tidak hanya sebatas menggunakan bahasa, tetapi justru tinggal di dalam bahasa. Dunia yang kita pahami sesungguhnya dibentuk oleh kata-kata yang kita gunakan untuk memaknainya.
Sementara Ludwig Wittgenstein mengingatkan bahwa “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Artinya, semakin luas cakrawala bahasa seseorang, semakin luas pula dunia yang dapat dipahaminya. Bahasa bukan pelengkap pikiran; bahasa adalah medium tempat pikiran dilahirkan.
Dalam konteks itulah Prof. Mardi melihat Ketika Kata Menjadi Mantra bukan sebagai buku motivasi menulis, melainkan sebagai sebuah ikhtiar intelektual yang mengingatkan kembali bahwa kata memiliki dimensi ontologis, epistemologis, sekaligus spiritual.
Namun, bagian yang paling memikat dari pemaparan Prof. Mardi hadir ketika mengucapkan sebuah frasa yang segera mengundang kontemplasi yaitu
“Transaksi linguistik antara Adam dan Tuhan.”
Frasa ini sesungguhnya membuka horizon filsafat bahasa yang jauh lebih luas.
Mengapa Allah tidak mengawali penciptaan manusia dengan mengajarkan teknik bertahan hidup? Mengapa bukan keterampilan berburu, bercocok tanam, atau membangun peradaban yang pertama kali diberikan kepada Adam?
Prof. Mardi kemudian mengajak hadirin kembali kepada firman Allah :
“Wa ‘allama Ādama al-asmā’a kullahā.”
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” (QS. Al-Baqarah: 31).


br
br
br






br
br






br