Di sinilah, menurut Prof. Mardi, berlangsung apa yang disebut sebagai transaksi linguistik pertama dalam sejarah manusia.
Sebelum manusia berbicara kepada sesamanya, ia terlebih dahulu “berbicara” dengan Tuhannya melalui proses pengajaran nama-nama. Sebelum ada dialog antarmanusia, telah ada dialog ilahiah. Sebelum ada komunikasi horizontal, telah lebih dahulu lahir komunikasi vertikal.
Dengan kata lain, bahasa bukan sebatas produk sosial sebagaimana dipahami oleh banyak teori linguistik modern. Bahasa, dalam perspektif Al-Qur’an, memiliki dimensi teologis. Ia lahir dari pengajaran Tuhan kepada manusia.
Karena itu Prof. Mardi menegaskan sebuah gagasan yang sangat mendalam yakni :
Bahasa memiliki dua jangkar.
Jangkar pertama adalah jangkar transenden.
Artinya, bahasa memperoleh legitimasi ontologisnya dari Tuhan. Ia tidak semata-mata merupakan hasil konvensi, kesepakatan sosial, ataupun evolusi budaya, tetapi berakar pada wahyu sebagai sumber makna pertama. Dalam perspektif ini, setiap kata membawa jejak asal-usul ilahiah.
Jangkar kedua adalah jangkar iman.
Bahasa menemukan nilai etiknya bukan ketika ia berhasil memengaruhi orang lain, melainkan ketika ia menghadirkan kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan. Sebab iman bukan hanya sesuatu yang diyakini, melainkan sesuatu yang diwujudkan melalui tutur kata.
Maka persoalan bahasa bukan lagi persoalan retorika, melainkan persoalan moral.
Setiap kata selalu memikul konsekuensi etis.
Ia dapat menjadi jalan menuju pencerahan.
Namun pada saat yang sama, ia juga dapat menjadi instrumen manipulasi.
Ia dapat menjadi doa yang mengangkat manusia.
Atau menjadi dusta yang menjatuhkan peradaban.
Dalam tradisi Islam, Rasulullah SAW bahkan mengaitkan kualitas keimanan dengan kualitas bahasa. Sebab iman tidak hanya tampak pada apa yang dilakukan tangan, tetapi juga pada apa yang keluar dari lisan.
Barangkali di situlah letak kedalaman Ketika Kata Menjadi Mantra.
Buku ini tidak sedang mengajarkan bagaimana merangkai kalimat yang indah. Ia sedang mengingatkan bahwa setiap kata adalah amanah ontologis sekaligus amanah spiritual. Kata bukan benda mati yang meluncur begitu saja dari bibir manusia. Ia adalah peristiwa yang membentuk cara manusia melihat dunia, memperlakukan sesama, bahkan memahami Tuhannya.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya hidup oleh roti.
Ia hidup oleh makna.
Dan makna selalu lahir dari kata.
Mungkin itulah sebabnya Allah memulai sejarah manusia bukan dengan mengajarkan cara menguasai bumi, melainkan dengan mengajarkan nama.
Karena siapa yang kehilangan nama akan kehilangan makna.
Siapa yang kehilangan makna akan kehilangan arah.
Dan siapa yang kehilangan arah, pada akhirnya akan kehilangan dirinya sendiri.


br
br
br






br
br






br