BUNGA DESA DI SEBERANG SUNGAI

Catatan Hati: Mulyati

Warna merah jingga, kuning keemasan tersemburat di balik gunung.
Seakan langit ikut mengintip anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di halaman rumah sang Gallarrang.

Kampung itu ibarat lembah yang jauh dari keramaian kota.
Jauh dari hiruk pikuk.
Di sana hanya ada sungai besar yang membentang di kaki gunung.
Sungai itu nadi kehidupan. Tempat warga mencuci, tempat anak-anak mandi dan tertawa sampai sore.

br

Rumah masih bisa dihitung dengan jari.
Di depan rumah hanya ada jalan setapak. Jalan untuk kaki manusia, dan jalan untuk kuda. Kuda yang setia mengangkut hasil sawah dan kebun ke rumah.

Desa itu sangat terpencil.
Untuk memenuhi kebutuhan pun kami harus barter. Menukar hasil kebun dengan barang dari kota.

Tapi di desa yang terpencil inilah…
lahir dan tumbuh seorang gadis belia yang manis.
Warga menyebutnya *”bunga desa”*.
Dialah putri sang Gallarrang. Kepala kampung pada masa itu.

Namanya… *Wiah*.
Rambut panjang, mata bulat berbinar, kulit sawo matang.
Lembut. Penuh kasih.
Siapa pun yang memandangnya, pasti menaruh simpati.

BACA JUGA:  Festival Seni Pertunjukan 2025 "Meledak" Sejumlah Begawan Seni Muncul

*DATANGNYA PAK GURU*

Sore itu, seorang pedagang datang berjalan kaki.
Bersamanya ada seorang anak muda.

Seperti biasa, orang asing yang masuk kampung akan dibawa ke rumah Gallarrang.
Sang Gallarrang menerima mereka dengan baik. Dipersilakan masuk.

Setelah bercerita tentang maksud berdagang, sang pedagang memperkenalkan anak muda itu.

“Ini putra saya, Gallarrang. Namanya *Ullah*. Pak Jaya memperkenalkan putranya.
Dia baru selesai pendidikan guru. Ingin mengajar anak-anak di sini.”

Sang Gallarrang mengangguk. Lalu bertanya,
“Mengajar apa?”

“Mengaji, Gallarrang. Mengajarkan membaca Al-Qur’an.”

Sang Gallarrang terdiam. Lalu balik bertanya pelan,
“Apa itu mengaji?”

Malam itu juga, Pak Jaya meminta dikumpulkan warga.
Dia ingin mengajar mengaji… sambil menjual dagangannya.

Keesokan harinya, warga dikumpulkan.
Dibuatkan tempat untuk anak-anak belajar.
Dan pada malam hari, giliran bapak-bapak belajar mengaji.

Tak terasa… hampir setahun berlalu.
Berdiri 1 sekolah.
Warga mulai pintar mengaji.
Mulai melaksanakan shalat 5 waktu.
Dan berdiri pula sebuah masjid. Dibangun dengan tangan warga sendiri.
Tempat berjamaah. Tempat membahas masalah agama.

BACA JUGA:  GELAS TANPA KOPI: Maysir Yulanwar

Di tengah semua itu, ada satu murid yang paling rajin.
Yang paling cepat hafal.
Yang matanya paling sering menatap ke arah… “putri Gallarrang”.

Anak muda itu kini dipanggil dengan sapaan akrab:
*Pak Guru Ullah.*

*LAMARAN YANG MEMATAHKAN*

Hari itu datang tanpa aba-aba.
Hari yang mengubah segalanya.

brbr
brbr
br