Di halaman rumah, suasana pecah.
Sang Gallarrang memeluk erat putri kesayangannya.
Putri pertamanya.
Yang selama ini selalu ia jaga dan kasihi.
Wiah membalas pelukan itu sekuat tenaga.
Ibunya bahkan tak sanggup berkata sepatah kata pun.
Dunianya serasa gelap.
Putri kesayangannya akan pergi ke kampung orang.
Ke tempat yang tak pernah ia lihat.
Tak tahu kapan akan kembali.
Wiah melangkah pergi…
Meninggalkan sungai tempat ia mandi.
Meninggalkan sawah tempat ia kejar-kejaran.
Meninggalkan lomba memetik jagung.
Meninggalkan gula merah di pelepah pisang yang dulu ia hitung satu-satu sesuai cetakannya.
Ia pergi… membawa seribu kenangan.
Kenangan yang tak akan pernah pupus.
Walau waktu terus berjalan.
*RUANG KOSONG DI RUMAH GALLARRANG*.
Malam pertama tanpa Wiah, rumah terasa aneh.
Terlalu sepi.
Sang Gallarrang duduk di beranda.
Tempat biasa Wiah duduk sambil merajut.
Kursinya masih ada.
Tapi yang mengisi… sudah tidak ada.
Ibunya masuk ke kamar.
Membuka lemari.
Baju-baju Wiah. masih tergantung rapi.
Ada baju kebesaran yang dulu dipakai saat acara adat, ada baju yang selalu dipakai saat. main hujan.
Ada selendang yang masih ada wangi melatinya.
Ibu memeluk baju itu.
Menangis tanpa suara.
“Kita yang mengantarkannya pergi…”
bisik Sang Gallarrang dari pintu.
“Sekarang… siapa yang akan kita tunggu pulang?”
Di kampung seberang, Wiah juga menangis.
Dalam rumah orang.
Dengan orang baru.
Ia menatap jendela.
Jauh di sana ada gunung.
Di balik gunung itu… ada sungai.
Ada rumah kayu.
Ada ayah dan ibu yang dulu selalu menunggunya pulang.
Ia menggenggam ujung selendangnya.
Berbisik pelan, agar tak ada yang dengar:
_”Ayah… Ibu… maafkan Wiah ya.
Wiah. rindu. Rindu sekali.”_
Tapi bisikan itu hilang.
Dimakan jarak.
Dimakan waktu.
Dimakan rindu yang tak pernah bisa pulang.
Dan di kampung itu…
Warna merah jingga kembali tersemburat di balik gunung.
Seperti dulu.
Hanya saja…
Tak ada lagi anak gadis Gallarrang yang berlarian di halaman.
—












